
Tidak hanya itu, Menikah adalah salah satu bagian dalam penyempurnaan dienul Islam. Sebagai agama yang paripurna, Islam mengatur segala hal yang ada dalam sendi kehidupan manusia, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur lagi. Dan kesemuanya itu merupakan bentuk pengabdian manusia kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”.
Sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Allah SWT, tentu saja dalam pelaksanaannya menikah mempunyai aturan main. Kenapa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menikah? Perkembangan zaman yang semakin pesat membuat tata cara pergaulan masyarakat bergeser dari nilai-nilai luhur ajaran agama dan budaya ketimuran bangsa indonesia yang dikenal sangat menjunjung tinggi tata krama/kesopanan. Terutama jika menyoroti pergaulan para pemudanya yang mengadopsi nilai-nilai pergaulan dunia barat yang penuh kebebasan, sehingga mengabaikan nilai-nilai moral yang sudah diajarkan oleh nenek moyang kita dahulu. Oleh karena itu, Islam memberikan jalan keluar kepada para pemuda untuk menghadapi kondisi ini dengan menikah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ”Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits). Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang memilih jalan menikah dalam hidupnya, antara lain:
1. Menyempurnakan separuh dien
Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separuh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separuh lainnya.” (HR. Baihaqi)
2. Menjaga pandangan dan kehormatan diri
”Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
3. Memperoleh keturunan
”Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik” (Qs. An Nahl (16) : 72).
”Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud).
”Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
4. Membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah
”Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs. At Taubah (9) : 71).
5. Menyambung tali silaturahim
Ketika menikah secara otomatis kita menggabungkan dua keluarga yakni keluarga dari pihak istri dan suami, sehingga anggota keluarga kita juga bertambah dan hubungan kedua anggota keluarga ini harus dijaga keharmonisannya.
Selain itu, selayaknya orang yang melakukan ibadah lainnya ada beberapa hal yang juga perlu dipersiapkan atau bekal yang harus dimiliki oleh calon pasangan suami-istri. Berikut ini ada 5 dimensi manusia yang perlu dibina terus-menerus (Dipetik dari tulisan Dzikrullah, Majalah Alia Feb 06 dengan beberapa penyesuaian), kelima dimensi itu adalah:
•Dimensi Ruhiyah (spiritual)
•Dimensi ‘Aqliyah (intelektual)
•Dimensi Syu’uriyah (mental,emosional)
•Dimensi Jasadiyah (fisikal,raga)
•Dimensi Manfaat (keterampilan)
Dimensi Ruhiyah
• Dibina dengan shalat tahajud (jenis shalat yang sudah diperintahkan jauh sebelum shalat 5 waktu di wajibkan).
• Membaca Al-Quran dengan maknanya sebelum shubuh.
• Selalu berdzikir mengingat kekuasaan Allah yang menggenggam kita dan seluruh alam.
• Bersahabat dengan orang-orang yang menjaga lidah, mata dan telinga untuk pembicaraan yang baik.
• Sering mengeluarkan harta dan waktu kesayangan kita untuk orang dhuafa (yatim, miskin, fakir, orang yang dalam perjalanan).
Dimensi ‘Aqliyah
• Ditempa dengan membaca buku-buku yang bergizi. Urutan prioritasnya seperti ini: Al-Quran, kitab-kitab Hadits (Bukhari-Muslim dll), kitab-kitab ulama (tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fii Zhilaalil Quran, Riyadhusshalihin karya Imam Nawawi dll), kitab-kitab Sirah atau sejarah hidup Rasulullah dan sahabatnya karya Ibnu Hisyam, Said Ramadhan Al-Buty, Al-Mubarakfury, Al-Kandahlawy dll).
• Baru sesudah itu baca buku yang lain-lain. Wajah peradaban barat karya Adian Husaini, Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki, ESQ karya Ari Ginanjar, bahkan novel Da Vinci Code juga silakan, tapi daftar yang diatas diselesaikan dulu.
Dimensi Syu’uriyah
Dipertajam dengan banyak membantu orang lain memecahkan masalahnya. Tidak harus dengan uang, meskipun semakin banyak uang atau barang yang kita berikan kepada orang juga membantu memantapkan jiwa. Semakin sering kita mendengarkan keluh kesah orang dan membantu menyelesaikannya, semakin mantap kestabilan emosi kita. Keluh kesah tentang uang yang kurang untuk membelikan susu anak, tentang kehilangan pekerjaan, tentang penyakit yang tak sembuh-sembuh, tentang warung yang bakal bangkrut, dengarkan. Bantu selesaikan.
Dimensi Jasadiyah
• Dikuatkan dengan sering puasa senin-kamis,
• Makan-makanan yang sehat alamiah (makin banyak penyakit aneh-aneh dan mengerikan yang disebabkan makanan artificial yang penuh dengan bahan pengawet, perasa, pewarna dan pengaroma buatan).
• Jika sakit, hindari sebisa mungkin obat konvensional dari dokter, terutama antibiotic, Karena para dokter sendiri yang bilang obat-obat mereka penuh dengan bahan kimia beracun yang menyembuhkan Sakit tapi menimbulkan sakit dibagian lain. Madu, Habbatussauda (jintan hitam), obat-obatan herbal harus didahulukan sebagai obat yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya.
• Olah raga, berkeringatlah setiap pagi 30-45 menit. Buka lebar-lebar paru-paru, stretching-lah otot dan saraf agar aliran darah lancar.
• Rajin-rajinlah berwudhu, selain merontokkan dosa-dosa, wajah dan kulit akan lebih bercahaya. Semakin sering berwudhu semakin bagus.
• Akhirnya, istikharah-lah dengan tekun. Para Sahabat Rasulullah dikabarkan melakukan istikharah untuk begitu banyak persoalan. Pekerjaan orang dewasa adalah menentukan pilihan. Begitu Wara’nya para sahabat, sampai-sampai untuk urusan yang remeh seperti hendak mencangkul ladang yang mana terlebih dahulu pun mereka melakukan istikharah. Inti dari istikharah itu, mohon kepada Allah. Rasulullah menjamin, tidak akan menyesal orang yang beristikharah.
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai.
Motivasi buat diri sendiri nih... :))
Wallahu'alam
ditulis udah lama , tapi baru di posting :)
dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar