Senin, 26 November 2012

Petualangan 2 Gadis Perantau

Kemarin hari pertamaku berpuasa di Ramadhan 1433 H ini, dikarenakan aku mendapati uzur. Pada saat itu pula ada sesuatu yang menarik yang mungkin akan slalu ku kenang bersama sahabatku Syarifah HR Daeng Tujuh atau cukup panggil dia dengan nama Ifa.

Seperti biasa, sepulang menjemput rezeki (baca: bekerja) kami sering bersama. Karena lokasi tempat kerja kami yang berdekatan di daerah Senen-Jakarta Pusat, jadilah kami selalu janjian untuk pulang bareng. Kejadian ini pun awalnya tak disangka-sangka, kami sama-sama tidak mengetahui kalau tempat kerja kami berdekatan. Namun, karena suatu kejadian yang tidak disengaja saat berbalas komentar di jejaring sosial facebook menyadarkan kami akan hal ini. Ketika itu, aku sedang berbalas komentar dengan temanku yang lain, saat dia menanyakan dimana tempatku bekerja dengan santai aku pun memberitahunya. Disitulah mungkin sahabatku Ifa juga membacanya, seketika itu juga dia ikut berkomentar dengan antusias menanyakan akan kebenaran itu (padahal nggak ada yang bohong loh...:D) dan aku pun membalasnya dengan tak kalah antusiasnya karena mendapati teman lama yang sudah lama juga tak bertemu. Padahal sempat beberapa kali kami berkirim pesan melalui facebook untuk bertemu tapi selalu gagal, eh...akhirnya takdir mempertemukan kami (atas izin-Nya). Ternyata keberadaan kami selama ini begitu dekat... Tapi, sebenarnya bukan cerita ini yang akan kubagi kali ini. (diantara sekian banyak cerita menarik tentang kami tentunya hehe...).

Alkisah, kemarin sama seperti hari-hari biasa kami pulang bersama. Hanya, terdapat perbedaan waktu dari sebelum bulan puasa, biasanya kami keluar kantor pukul 16.00 sehingga dapat mengikuti jadwal kereta pukul 16.50. Karena jenjang waktu yang cukup jauh sekitar 50 menit, jadilah kami masih dapat berjalan dengan santai menuju stasiun. Namun, tidak dengan bulan puasa kali ini, karena jadwal kantorku memajukan waktu kerja 30 menit lebih awal dari yang biasa masuk pukul 08.00 menjadi pukul 07.30, sehingga berpengaruh pula pada jam pulang kerja yang tadinya pukul 16.00 menjadi 15.30, atas dasar ini aku meminta Ifa juga memajukan jam pulang kantornya (beruntung tempat kerjanya sangat fleksibel....) dan atas dasar ini pulalah jadwal kereta kami juga disesuaikan. Alhamdulillah memang ada kereta yang berangkat pukul 15.50, namun jarak waktu dari keluar kantor sebenarnya sangat mepet hanya 20 menit, belum lagi kami harus melaksanakan sholat Ashar terlebih dahulu (ini penting saudara-saudara..^_^).

Dikarenakan waktu yang singkat tersebut, kami harus bergegas menuju stasiun agar tidak ketinggalan kereta dan juga berharap dapat sampai lebih awal ke rumah agar dapat berbuka puasa bersama anggota rumah masing-masing. Aku masih berstatus anak kos saat ini, namun harapan berbuka bersama anggota kosanku adalah sesuatu yang aku tunggu juga. Sementara Ifa, tinggal bersama Ibu dan adiknya meski sebenarnya Ia lebih sering berbuka di jalan karena jarak tempuh menuju tempat tinggalnya lebih jauh daripada aku. Jadi, meski kami pulang bersama tapi harus berpisah di tengah jalan karena aku turun lebih dulu dari kereta.

Kemarin, Rabu-25 Juli 2012 seperti biasa sepulang kerja aku langsung bergegas menuju kantornya Ifa untuk menjemputnya pulang bersama, jam di ponselku menunjukkan pukul 15.35 wah...aku harus bergegas pikirku, dan benar saja tak lama ada telefon dari nona Ifa menanyakan keberadaanku. “Ya...ini aku sudah dijembatan, otw (on the way)...” sambil lari-lari kecil aku meneruskan langkah. Tapi karena ingin sampai lebih cepat aku memilih rute berbeda, ternyata Ifa menunggu di rute yang biasa aku lewati jadilah kami tak bertemu, dan tanpa pikir panjang aku berbalik arah karena merasa Ifa menunggu di rute biasa dan benar saja Ia ada disana. Tentu saja ini sedikit menyita waktu kami, 10 menit lagi menunujukkan pukul 15.50 sehingga kami harus bergegas menuju stasiun. Sebenarnya ini bukan yang pertama, 2 hari belakangan ini semenjak bulan puasa kami harus berlari-lari kecil menuju stasiun. Jadi teringat sebuah lagu, “berlari-lari mengejar bis kota” namun kali ini diganti dengan “berlari-lari mengejar kereta” hehe. Hari-hari sebelumnya kami berhasil sampai sesaat sebelum kereta berangkat, meski dengan penuh perjuangan. Hari pertama berhasil kami lalui meski tetap dengan berlari, begitu pula dengan hari kedua sampai-sampai kami tidak sempat membeli karcis (tentu saja dengan niat membayar ketika di kereta) dan sesaat setelah kami memasuki kereta, kereta pun jalan, jadilah kami menghela nafas panjang.

Nah...begitu pula di hari ketiga, ternyata perjuangan kami benar-benar sedang di uji karena waktu yang sudah mepet sebab 5 menit lagi kereta akan berangkat. Niat tidak membeli karcis pun tercetus seperti kemarin melihat antrian yang panjang dan waktu yang mepet, tapi ketatnya penjagaan membuat kami mengurungkannya. Setelah mendapat karcis kami pun berlari menuju pintu masuk dan menurut info petugas keretanya ada di Jalur 6 masih sama seperti biasanya, tapi sesampainya disana kami tak mendapati kereta itu. Kami pun bertanya kepada siapa saja orang yang kami temui disitu, info yang diberikan pun tidak akurat jadilah kami mencari sendiri. Ternyata kereta berada di Jalur 2 dan kami harus balik arah lagi, sambil berlari kencang dan berteriak karena bunyi bel tanda kereta akan berangkat sudah terdengar. Untuk menuju kereta tersebut kami harus melewati satu kereta yang tengah berhenti, tentu saja kami sudah tak punya waktu banyak dan kereta sudah mulai berjalan perlahan, kami pun dengan sekuat tenaga berlari sekencang-kencangnya. Karena kereta tidak di'parkir' di peron, kami harus berusaha keras menaiki kereta, beruntung ada seorang lelaki yang sudah berada didalam kereta membantu kami naik ke atas sambil sebelumnya Ia melontarkan kalimat “udah ga keburu mbak...” (kami pun hampir putus asa dibuatnya) tapi kami yakin bisa, dan entah mengapa tiba-tiba kereta itu berhenti sejenak kami pun berjuang kembali dengan sekuat tenaga menaiki kereta. Alhamdulillah, dengan penuh keyakinan itu kami pun berhasil sampai diatas kereta yang sesaat setelah kami naik langsung jalan, meski sebelumnya Ifa sempat terjatuh :(

Dengan nafas yang tersengal dan ngos-ngosan kami menyusuri kereta mencari tempat duduk favorit kami, sambil sesekali tertawa mengingat apa yang baru saja terjadi. Kondisi kami yang ketika itu sedang berpuasa semakin membuat kami haru. Bagi kami inilah perjuangan hidup, kisah ini menjadi bagian dari episode kehidupan kami yang sebelumnya pun sudah penuh dengan ujian. Kami sama-sama sudah tidak mempunyai kepala keluarga (baca: Ayah) hingga harus bekerja di perantauan ini untuk menyambung hidup. Aku yang berasal dari kepulauan Riau (meski keturunan sulawesi) dipertemukan dengan Ifa yang berasal dari Sulawesi di tanah Batavia ini, karena menempuh pendidikan di Universitas yang sama UIN Syahid Jakarta. Dan persamaan suku diantara kami membuat kami mudah akrab, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Saat-saat di kereta yang menghabiskan waktu cukup panjang untuk sampai di tujuan, membuat kami sering berbagi cerita dan mengukir mimpi, kami menemukan persamaan dalam beberapa hal yang semakin membuat kami jadi saling menguatkan menjalani kehidupan ini.

“Peristiwa ini akan kita ingat fit, saat nanti kita sukses” kata-kata yang terlontar dari bibir Ifa dan ku balas dengan senyum sambil meng-amin-kannya. Tak lama sembari kereta berjalan kami pun tertidur...

(sebenernya sih masih banyak pengalaman kereta yang belum dituliskan hehe... berharap suatu saat akan ada lagi tulisan lainnya, hmm....)

repost from http://www.facebook.com/notes/fitriah-bintu-abdullah/petualangan-kereta-2-gadis-perantau/10151167970122326

Tidak ada komentar:

Posting Komentar