Kemarin hari pertamaku berpuasa di Ramadhan 1433 H ini,
dikarenakan aku mendapati uzur. Pada saat itu pula ada sesuatu yang
menarik yang mungkin akan slalu ku kenang bersama sahabatku Syarifah HR
Daeng Tujuh atau cukup panggil dia dengan nama Ifa.
Seperti biasa, sepulang menjemput rezeki (baca: bekerja) kami sering
bersama. Karena lokasi tempat kerja kami yang berdekatan di daerah
Senen-Jakarta Pusat, jadilah kami selalu janjian untuk pulang bareng.
Kejadian ini pun awalnya tak disangka-sangka, kami sama-sama tidak
mengetahui kalau tempat kerja kami berdekatan. Namun, karena suatu
kejadian yang tidak disengaja saat berbalas komentar di jejaring sosial
facebook menyadarkan kami akan hal ini. Ketika itu, aku sedang berbalas
komentar dengan temanku yang lain, saat dia menanyakan dimana tempatku
bekerja dengan santai aku pun memberitahunya. Disitulah mungkin
sahabatku Ifa juga membacanya, seketika itu juga dia ikut berkomentar
dengan antusias menanyakan akan kebenaran itu (padahal nggak ada yang
bohong loh...:D) dan aku pun membalasnya dengan tak kalah antusiasnya
karena mendapati teman lama yang sudah lama juga tak bertemu. Padahal
sempat beberapa kali kami berkirim pesan melalui facebook untuk bertemu
tapi selalu gagal, eh...akhirnya takdir mempertemukan kami (atas
izin-Nya). Ternyata keberadaan kami selama ini begitu dekat... Tapi,
sebenarnya bukan cerita ini yang akan kubagi kali ini. (diantara sekian
banyak cerita menarik tentang kami tentunya hehe...).
Alkisah, kemarin sama seperti hari-hari biasa kami pulang bersama.
Hanya, terdapat perbedaan waktu dari sebelum bulan puasa, biasanya kami
keluar kantor pukul 16.00 sehingga dapat mengikuti jadwal kereta pukul
16.50. Karena jenjang waktu yang cukup jauh sekitar 50 menit, jadilah
kami masih dapat berjalan dengan santai menuju stasiun. Namun, tidak
dengan bulan puasa kali ini, karena jadwal kantorku memajukan waktu
kerja 30 menit lebih awal dari yang biasa masuk pukul 08.00 menjadi
pukul 07.30, sehingga berpengaruh pula pada jam pulang kerja yang
tadinya pukul 16.00 menjadi 15.30, atas dasar ini aku meminta Ifa juga
memajukan jam pulang kantornya (beruntung tempat kerjanya sangat
fleksibel....) dan atas dasar ini pulalah jadwal kereta kami juga
disesuaikan. Alhamdulillah memang ada kereta yang berangkat pukul 15.50,
namun jarak waktu dari keluar kantor sebenarnya sangat mepet hanya 20
menit, belum lagi kami harus melaksanakan sholat Ashar terlebih dahulu
(ini penting saudara-saudara..^_^).
Dikarenakan waktu yang singkat tersebut, kami harus bergegas menuju
stasiun agar tidak ketinggalan kereta dan juga berharap dapat sampai
lebih awal ke rumah agar dapat berbuka puasa bersama anggota rumah
masing-masing. Aku masih berstatus anak kos saat ini, namun harapan
berbuka bersama anggota kosanku adalah sesuatu yang aku tunggu juga.
Sementara Ifa, tinggal bersama Ibu dan adiknya meski sebenarnya Ia lebih
sering berbuka di jalan karena jarak tempuh menuju tempat tinggalnya
lebih jauh daripada aku. Jadi, meski kami pulang bersama tapi harus
berpisah di tengah jalan karena aku turun lebih dulu dari kereta.
Kemarin, Rabu-25 Juli 2012 seperti biasa sepulang kerja aku langsung
bergegas menuju kantornya Ifa untuk menjemputnya pulang bersama, jam di
ponselku menunjukkan pukul 15.35 wah...aku harus bergegas pikirku, dan
benar saja tak lama ada telefon dari nona Ifa menanyakan keberadaanku.
“Ya...ini aku sudah dijembatan, otw (on the way)...” sambil lari-lari
kecil aku meneruskan langkah. Tapi karena ingin sampai lebih cepat aku
memilih rute berbeda, ternyata Ifa menunggu di rute yang biasa aku
lewati jadilah kami tak bertemu, dan tanpa pikir panjang aku berbalik
arah karena merasa Ifa menunggu di rute biasa dan benar saja Ia ada
disana. Tentu saja ini sedikit menyita waktu kami, 10 menit lagi
menunujukkan pukul 15.50 sehingga kami harus bergegas menuju stasiun.
Sebenarnya ini bukan yang pertama, 2 hari belakangan ini semenjak bulan
puasa kami harus berlari-lari kecil menuju stasiun. Jadi teringat sebuah
lagu, “berlari-lari mengejar bis kota” namun kali ini diganti dengan
“berlari-lari mengejar kereta” hehe. Hari-hari sebelumnya kami berhasil
sampai sesaat sebelum kereta berangkat, meski dengan penuh perjuangan.
Hari pertama berhasil kami lalui meski tetap dengan berlari, begitu pula
dengan hari kedua sampai-sampai kami tidak sempat membeli karcis (tentu
saja dengan niat membayar ketika di kereta) dan sesaat setelah kami
memasuki kereta, kereta pun jalan, jadilah kami menghela nafas panjang.
Nah...begitu pula di hari ketiga, ternyata perjuangan kami
benar-benar sedang di uji karena waktu yang sudah mepet sebab 5 menit
lagi kereta akan berangkat. Niat tidak membeli karcis pun tercetus
seperti kemarin melihat antrian yang panjang dan waktu yang mepet, tapi
ketatnya penjagaan membuat kami mengurungkannya. Setelah mendapat karcis
kami pun berlari menuju pintu masuk dan menurut info petugas keretanya
ada di Jalur 6 masih sama seperti biasanya, tapi sesampainya disana kami
tak mendapati kereta itu. Kami pun bertanya kepada siapa saja orang
yang kami temui disitu, info yang diberikan pun tidak akurat jadilah
kami mencari sendiri. Ternyata kereta berada di Jalur 2 dan kami harus
balik arah lagi, sambil berlari kencang dan berteriak karena bunyi bel
tanda kereta akan berangkat sudah terdengar. Untuk menuju kereta
tersebut kami harus melewati satu kereta yang tengah berhenti, tentu
saja kami sudah tak punya waktu banyak dan kereta sudah mulai berjalan
perlahan, kami pun dengan sekuat tenaga berlari sekencang-kencangnya.
Karena kereta tidak di'parkir' di peron, kami harus berusaha keras
menaiki kereta, beruntung ada seorang lelaki yang sudah berada didalam
kereta membantu kami naik ke atas sambil sebelumnya Ia melontarkan
kalimat “udah ga keburu mbak...” (kami pun hampir putus asa dibuatnya)
tapi kami yakin bisa, dan entah mengapa tiba-tiba kereta itu berhenti
sejenak kami pun berjuang kembali dengan sekuat tenaga menaiki kereta.
Alhamdulillah, dengan penuh keyakinan itu kami pun berhasil sampai
diatas kereta yang sesaat setelah kami naik langsung jalan, meski
sebelumnya Ifa sempat terjatuh :(
Dengan nafas yang tersengal dan ngos-ngosan kami menyusuri kereta
mencari tempat duduk favorit kami, sambil sesekali tertawa mengingat apa
yang baru saja terjadi. Kondisi kami yang ketika itu sedang berpuasa
semakin membuat kami haru. Bagi kami inilah perjuangan hidup, kisah ini
menjadi bagian dari episode kehidupan kami yang sebelumnya pun sudah
penuh dengan ujian. Kami sama-sama sudah tidak mempunyai kepala keluarga
(baca: Ayah) hingga harus bekerja di perantauan ini untuk menyambung
hidup. Aku yang berasal dari kepulauan Riau (meski keturunan sulawesi)
dipertemukan dengan Ifa yang berasal dari Sulawesi di tanah Batavia ini,
karena menempuh pendidikan di Universitas yang sama UIN Syahid Jakarta.
Dan persamaan suku diantara kami membuat kami mudah akrab, bahkan sudah
seperti saudara sendiri. Saat-saat di kereta yang menghabiskan waktu
cukup panjang untuk sampai di tujuan, membuat kami sering berbagi cerita
dan mengukir mimpi, kami menemukan persamaan dalam beberapa hal yang
semakin membuat kami jadi saling menguatkan menjalani kehidupan ini.
“Peristiwa ini akan kita ingat fit, saat nanti kita sukses”
kata-kata yang terlontar dari bibir Ifa dan ku balas dengan senyum
sambil meng-amin-kannya. Tak lama sembari kereta berjalan kami pun
tertidur...
(sebenernya sih masih banyak pengalaman kereta yang belum dituliskan
hehe... berharap suatu saat akan ada lagi tulisan lainnya, hmm....)
repost from http://www.facebook.com/notes/fitriah-bintu-abdullah/petualangan-kereta-2-gadis-perantau/10151167970122326

Tidak ada komentar:
Posting Komentar