Senin, 10 Desember 2012

Memaknai





Saat manusia dengan pikirannya sendiri, memaknai setiap kejadian.
Belumlah tentu itu merupakan kebenaran, meski ianya adalah sebuah kenyataan.
Yang menurut kita baik, belum tentu menurut Allah baik dan sebaliknya.
Hanya, berusaha terus mencoba menjadi hamba terbaik menurut-Nya.
Ketika doa dan ikhtiar telah pun ditunaikan, Allah-lah muara dari segalanya.
Sebab dunia ini fana, Dialah yang sesungguhnya kekal.

Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas nikmat yang hingga kini masih kurasakan. Maka, nikmat-Nya yang manakah yang kan kau dustakan?

Meski ini bukanlah akhir dari sebuah harap. Namun, tanda-tanda itu sudah berusaha ku baca dengan kemampuanku. Allah…sungguh semakin kurasakan ke Maha Rahman dan Rahim-Mu. Tak usah kuragu lagi bahwa Kau memberi rezeki dari arah yang tak pernah ku sangkakan. Insan dhaif ini hanya mampu mengucap syukur, sesungguhnya aku malu pada-Mu Rabb. Kali ini, air mata jatuh bukan karena duka yang mendera, tapi ke-suka-an yang entah dengan cara apa lagi harus ku ungkapkan. Jika memang ini yang terbaik menurut-Mu, mudahkanlah ia. Yaa muqollibal qulub, tsabbit qalbi ala diinik…

menyongsong harapan besar...
Jakarta, 26 Muharram 1433 H/10 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar