Kamis, 29 November 2012

MENIKAH adalah IBADAH

Kapan menikah? Atau kapan menyusul? Begitulah kira-kira pertanyaan yang sering muncul jika bertemu dengan teman-teman yang sudah menikah atau bahkan yang belum menikah dan juga jika bertemu dengan anggota keluarga. Melewati seperempat abad usia dalam kehidupan ini, mungkin memang sudah saatnya memikirkan hal yang satu itu dan sudah menjadi sunnatullah bahwasanya manusia itu diciptakan berpasang-pasangan. Sebagaimana firman Allah SWT “Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).





Tidak hanya itu, Menikah adalah salah satu bagian dalam penyempurnaan dienul Islam. Sebagai agama yang paripurna, Islam mengatur segala hal yang ada dalam sendi kehidupan manusia, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur lagi. Dan kesemuanya itu merupakan bentuk pengabdian manusia kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”.


Sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Allah SWT, tentu saja dalam pelaksanaannya menikah mempunyai aturan main. Kenapa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menikah? Perkembangan zaman yang semakin pesat membuat tata cara pergaulan masyarakat bergeser dari nilai-nilai luhur ajaran agama dan budaya ketimuran bangsa indonesia yang dikenal sangat menjunjung tinggi tata krama/kesopanan. Terutama jika menyoroti pergaulan para pemudanya yang mengadopsi nilai-nilai pergaulan dunia barat yang penuh kebebasan, sehingga mengabaikan nilai-nilai moral yang sudah diajarkan oleh nenek moyang kita dahulu. Oleh karena itu, Islam memberikan jalan keluar kepada para pemuda untuk menghadapi kondisi ini dengan menikah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ”Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits). Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang memilih jalan menikah dalam hidupnya, antara lain:

1. Menyempurnakan separuh dien

Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separuh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separuh lainnya.” (HR. Baihaqi)

2. Menjaga pandangan dan kehormatan diri

”Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).

3. Memperoleh keturunan

”Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik” (Qs. An Nahl (16) : 72).


”Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud).

”Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).

4. Membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs. At Taubah (9) : 71).

5. Menyambung tali silaturahim

Ketika menikah secara otomatis kita menggabungkan dua keluarga yakni keluarga dari pihak istri dan suami, sehingga anggota keluarga kita juga bertambah dan hubungan kedua anggota keluarga ini harus dijaga keharmonisannya.


Selain itu, selayaknya orang yang melakukan ibadah lainnya ada beberapa hal yang juga perlu dipersiapkan atau bekal yang harus dimiliki oleh calon pasangan suami-istri. Berikut ini ada 5 dimensi manusia yang perlu dibina terus-menerus (Dipetik dari tulisan Dzikrullah, Majalah Alia Feb 06 dengan beberapa penyesuaian), kelima dimensi itu adalah:
•Dimensi Ruhiyah (spiritual)
•Dimensi ‘Aqliyah (intelektual)
•Dimensi Syu’uriyah (mental,emosional)
•Dimensi Jasadiyah (fisikal,raga)
•Dimensi Manfaat (keterampilan)


Dimensi Ruhiyah
• Dibina dengan shalat tahajud (jenis shalat yang sudah diperintahkan jauh sebelum shalat 5 waktu di wajibkan).
• Membaca Al-Quran dengan maknanya sebelum shubuh.
• Selalu berdzikir mengingat kekuasaan Allah yang menggenggam kita dan seluruh alam.
• Bersahabat dengan orang-orang yang menjaga lidah, mata dan telinga untuk pembicaraan yang baik.
• Sering mengeluarkan harta dan waktu kesayangan kita untuk orang dhuafa (yatim, miskin, fakir, orang yang dalam perjalanan).


Dimensi ‘Aqliyah
• Ditempa dengan membaca buku-buku yang bergizi. Urutan prioritasnya seperti ini: Al-Quran, kitab-kitab Hadits (Bukhari-Muslim dll), kitab-kitab ulama (tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fii Zhilaalil Quran, Riyadhusshalihin karya Imam Nawawi dll), kitab-kitab Sirah atau sejarah hidup Rasulullah dan sahabatnya karya Ibnu Hisyam, Said Ramadhan Al-Buty, Al-Mubarakfury, Al-Kandahlawy dll).
• Baru sesudah itu baca buku yang lain-lain. Wajah peradaban barat karya Adian Husaini, Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki, ESQ karya Ari Ginanjar, bahkan novel Da Vinci Code juga silakan, tapi daftar yang diatas diselesaikan dulu.


Dimensi Syu’uriyah

Dipertajam dengan banyak membantu orang lain memecahkan masalahnya. Tidak harus dengan uang, meskipun semakin banyak uang atau barang yang kita berikan kepada orang juga membantu memantapkan jiwa. Semakin sering kita mendengarkan keluh kesah orang dan membantu menyelesaikannya, semakin mantap kestabilan emosi kita. Keluh kesah tentang uang yang kurang untuk membelikan susu anak, tentang kehilangan pekerjaan, tentang penyakit yang tak sembuh-sembuh, tentang warung yang bakal bangkrut, dengarkan. Bantu selesaikan.


Dimensi Jasadiyah
• Dikuatkan dengan sering puasa senin-kamis,
• Makan-makanan yang sehat alamiah (makin banyak penyakit aneh-aneh dan mengerikan yang disebabkan makanan artificial yang penuh dengan bahan pengawet, perasa, pewarna dan pengaroma buatan).
• Jika sakit, hindari sebisa mungkin obat konvensional dari dokter, terutama antibiotic, Karena para dokter sendiri yang bilang obat-obat mereka penuh dengan bahan kimia beracun yang menyembuhkan Sakit tapi menimbulkan sakit dibagian lain. Madu, Habbatussauda (jintan hitam), obat-obatan herbal harus didahulukan sebagai obat yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya.
• Olah raga, berkeringatlah setiap pagi 30-45 menit. Buka lebar-lebar paru-paru, stretching-lah otot dan saraf agar aliran darah lancar.
• Rajin-rajinlah berwudhu, selain merontokkan dosa-dosa, wajah dan kulit akan lebih bercahaya. Semakin sering berwudhu semakin bagus.
• Akhirnya, istikharah-lah dengan tekun. Para Sahabat Rasulullah dikabarkan melakukan istikharah untuk begitu banyak persoalan. Pekerjaan orang dewasa adalah menentukan pilihan. Begitu Wara’nya para sahabat, sampai-sampai untuk urusan yang remeh seperti hendak mencangkul ladang yang mana terlebih dahulu pun mereka melakukan istikharah. Inti dari istikharah itu, mohon kepada Allah. Rasulullah menjamin, tidak akan menyesal orang yang beristikharah.

Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai.


Motivasi buat diri sendiri nih... :))


Wallahu'alam

ditulis udah lama , tapi baru di posting :)

dari berbagai sumber

Senin, 26 November 2012

Petualangan 2 Gadis Perantau

Kemarin hari pertamaku berpuasa di Ramadhan 1433 H ini, dikarenakan aku mendapati uzur. Pada saat itu pula ada sesuatu yang menarik yang mungkin akan slalu ku kenang bersama sahabatku Syarifah HR Daeng Tujuh atau cukup panggil dia dengan nama Ifa.

Seperti biasa, sepulang menjemput rezeki (baca: bekerja) kami sering bersama. Karena lokasi tempat kerja kami yang berdekatan di daerah Senen-Jakarta Pusat, jadilah kami selalu janjian untuk pulang bareng. Kejadian ini pun awalnya tak disangka-sangka, kami sama-sama tidak mengetahui kalau tempat kerja kami berdekatan. Namun, karena suatu kejadian yang tidak disengaja saat berbalas komentar di jejaring sosial facebook menyadarkan kami akan hal ini. Ketika itu, aku sedang berbalas komentar dengan temanku yang lain, saat dia menanyakan dimana tempatku bekerja dengan santai aku pun memberitahunya. Disitulah mungkin sahabatku Ifa juga membacanya, seketika itu juga dia ikut berkomentar dengan antusias menanyakan akan kebenaran itu (padahal nggak ada yang bohong loh...:D) dan aku pun membalasnya dengan tak kalah antusiasnya karena mendapati teman lama yang sudah lama juga tak bertemu. Padahal sempat beberapa kali kami berkirim pesan melalui facebook untuk bertemu tapi selalu gagal, eh...akhirnya takdir mempertemukan kami (atas izin-Nya). Ternyata keberadaan kami selama ini begitu dekat... Tapi, sebenarnya bukan cerita ini yang akan kubagi kali ini. (diantara sekian banyak cerita menarik tentang kami tentunya hehe...).

Alkisah, kemarin sama seperti hari-hari biasa kami pulang bersama. Hanya, terdapat perbedaan waktu dari sebelum bulan puasa, biasanya kami keluar kantor pukul 16.00 sehingga dapat mengikuti jadwal kereta pukul 16.50. Karena jenjang waktu yang cukup jauh sekitar 50 menit, jadilah kami masih dapat berjalan dengan santai menuju stasiun. Namun, tidak dengan bulan puasa kali ini, karena jadwal kantorku memajukan waktu kerja 30 menit lebih awal dari yang biasa masuk pukul 08.00 menjadi pukul 07.30, sehingga berpengaruh pula pada jam pulang kerja yang tadinya pukul 16.00 menjadi 15.30, atas dasar ini aku meminta Ifa juga memajukan jam pulang kantornya (beruntung tempat kerjanya sangat fleksibel....) dan atas dasar ini pulalah jadwal kereta kami juga disesuaikan. Alhamdulillah memang ada kereta yang berangkat pukul 15.50, namun jarak waktu dari keluar kantor sebenarnya sangat mepet hanya 20 menit, belum lagi kami harus melaksanakan sholat Ashar terlebih dahulu (ini penting saudara-saudara..^_^).

Dikarenakan waktu yang singkat tersebut, kami harus bergegas menuju stasiun agar tidak ketinggalan kereta dan juga berharap dapat sampai lebih awal ke rumah agar dapat berbuka puasa bersama anggota rumah masing-masing. Aku masih berstatus anak kos saat ini, namun harapan berbuka bersama anggota kosanku adalah sesuatu yang aku tunggu juga. Sementara Ifa, tinggal bersama Ibu dan adiknya meski sebenarnya Ia lebih sering berbuka di jalan karena jarak tempuh menuju tempat tinggalnya lebih jauh daripada aku. Jadi, meski kami pulang bersama tapi harus berpisah di tengah jalan karena aku turun lebih dulu dari kereta.

Kemarin, Rabu-25 Juli 2012 seperti biasa sepulang kerja aku langsung bergegas menuju kantornya Ifa untuk menjemputnya pulang bersama, jam di ponselku menunjukkan pukul 15.35 wah...aku harus bergegas pikirku, dan benar saja tak lama ada telefon dari nona Ifa menanyakan keberadaanku. “Ya...ini aku sudah dijembatan, otw (on the way)...” sambil lari-lari kecil aku meneruskan langkah. Tapi karena ingin sampai lebih cepat aku memilih rute berbeda, ternyata Ifa menunggu di rute yang biasa aku lewati jadilah kami tak bertemu, dan tanpa pikir panjang aku berbalik arah karena merasa Ifa menunggu di rute biasa dan benar saja Ia ada disana. Tentu saja ini sedikit menyita waktu kami, 10 menit lagi menunujukkan pukul 15.50 sehingga kami harus bergegas menuju stasiun. Sebenarnya ini bukan yang pertama, 2 hari belakangan ini semenjak bulan puasa kami harus berlari-lari kecil menuju stasiun. Jadi teringat sebuah lagu, “berlari-lari mengejar bis kota” namun kali ini diganti dengan “berlari-lari mengejar kereta” hehe. Hari-hari sebelumnya kami berhasil sampai sesaat sebelum kereta berangkat, meski dengan penuh perjuangan. Hari pertama berhasil kami lalui meski tetap dengan berlari, begitu pula dengan hari kedua sampai-sampai kami tidak sempat membeli karcis (tentu saja dengan niat membayar ketika di kereta) dan sesaat setelah kami memasuki kereta, kereta pun jalan, jadilah kami menghela nafas panjang.

Nah...begitu pula di hari ketiga, ternyata perjuangan kami benar-benar sedang di uji karena waktu yang sudah mepet sebab 5 menit lagi kereta akan berangkat. Niat tidak membeli karcis pun tercetus seperti kemarin melihat antrian yang panjang dan waktu yang mepet, tapi ketatnya penjagaan membuat kami mengurungkannya. Setelah mendapat karcis kami pun berlari menuju pintu masuk dan menurut info petugas keretanya ada di Jalur 6 masih sama seperti biasanya, tapi sesampainya disana kami tak mendapati kereta itu. Kami pun bertanya kepada siapa saja orang yang kami temui disitu, info yang diberikan pun tidak akurat jadilah kami mencari sendiri. Ternyata kereta berada di Jalur 2 dan kami harus balik arah lagi, sambil berlari kencang dan berteriak karena bunyi bel tanda kereta akan berangkat sudah terdengar. Untuk menuju kereta tersebut kami harus melewati satu kereta yang tengah berhenti, tentu saja kami sudah tak punya waktu banyak dan kereta sudah mulai berjalan perlahan, kami pun dengan sekuat tenaga berlari sekencang-kencangnya. Karena kereta tidak di'parkir' di peron, kami harus berusaha keras menaiki kereta, beruntung ada seorang lelaki yang sudah berada didalam kereta membantu kami naik ke atas sambil sebelumnya Ia melontarkan kalimat “udah ga keburu mbak...” (kami pun hampir putus asa dibuatnya) tapi kami yakin bisa, dan entah mengapa tiba-tiba kereta itu berhenti sejenak kami pun berjuang kembali dengan sekuat tenaga menaiki kereta. Alhamdulillah, dengan penuh keyakinan itu kami pun berhasil sampai diatas kereta yang sesaat setelah kami naik langsung jalan, meski sebelumnya Ifa sempat terjatuh :(

Dengan nafas yang tersengal dan ngos-ngosan kami menyusuri kereta mencari tempat duduk favorit kami, sambil sesekali tertawa mengingat apa yang baru saja terjadi. Kondisi kami yang ketika itu sedang berpuasa semakin membuat kami haru. Bagi kami inilah perjuangan hidup, kisah ini menjadi bagian dari episode kehidupan kami yang sebelumnya pun sudah penuh dengan ujian. Kami sama-sama sudah tidak mempunyai kepala keluarga (baca: Ayah) hingga harus bekerja di perantauan ini untuk menyambung hidup. Aku yang berasal dari kepulauan Riau (meski keturunan sulawesi) dipertemukan dengan Ifa yang berasal dari Sulawesi di tanah Batavia ini, karena menempuh pendidikan di Universitas yang sama UIN Syahid Jakarta. Dan persamaan suku diantara kami membuat kami mudah akrab, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Saat-saat di kereta yang menghabiskan waktu cukup panjang untuk sampai di tujuan, membuat kami sering berbagi cerita dan mengukir mimpi, kami menemukan persamaan dalam beberapa hal yang semakin membuat kami jadi saling menguatkan menjalani kehidupan ini.

“Peristiwa ini akan kita ingat fit, saat nanti kita sukses” kata-kata yang terlontar dari bibir Ifa dan ku balas dengan senyum sambil meng-amin-kannya. Tak lama sembari kereta berjalan kami pun tertidur...

(sebenernya sih masih banyak pengalaman kereta yang belum dituliskan hehe... berharap suatu saat akan ada lagi tulisan lainnya, hmm....)

repost from http://www.facebook.com/notes/fitriah-bintu-abdullah/petualangan-kereta-2-gadis-perantau/10151167970122326

What a wonderful days…

Sabtu-Minggu kemarin adalah hari yang luar biasa, menyiratkan banyak makna. Lepas dari rutinitas kantor di sabtu sore, langsung bergegas menuju masjid sunda kelapa. Mengikuti majelis ilmu yang diadakan oleh RISKA (remaja masjid sunda kelapa). Mengangkat tema “inspirator” menghadirkan dr. Jose Rizal (MER-C) dan Oki Setiana Dewi (Artis/Penulis) serta di moderatori oleh Aa Molan (Mustang radio). Benar-benar menginspirasi, pengalaman yang dibagi oleh dokter Jose yang terbiasa praktek di daerah konflik seperti di Ambon dan Gaza sangat luar biasa. Saat ini MER-C tengah membuat rumah sakit di Gaza yang dananya didapatkan dari sumbangan rakyat Indonesia. Meski resiko kegiatan beliau taruhannya nyawa, menurutnya semua itu bisa dilakukan jika kita memiliki keikhlasan dan kesabaran, pesan beliau jadilah orang bermanfaat bagi sesamamu.
Begitupula dengan Oki, bintang film Ketika Cinta Bertasbih ini membagi pengalamannya menjadi muslimah yang istiqomah dengan hijabnya, menurutnya jika apa yang kita lakukan tujuannya Allah maka segala sesuatunya akan terasa mudah. Meski berada di dunia entertain yang kata orang glamour, namun semua itu baginya adalah kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik. Pesannya pun sama dengan dokter Jose, Oki mengajak untuk menjadi orang bermanfaat apapun profesi kita, terutama bagi para pemuda karena nanti Allah akan menanyakan untuk apa masa mudamu kamu habiskan?.

Acara yang di pandu Aa’ Molan ini juga terasa hidup dengan pembawaannya yang kocak yang sesekali membuat semua hadirin tertawa. Acara sesi pertama yang dimulai ba’da isya ini berakhir sekitar pukul 22.30 dan dilanjutkan dengan break sejenak hingga pukul 22.45, dan kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yang diisi oleh Ustadz Bendry yang membahas tentang ‘inspirator dalam Islam’. Acara yang masih di pandu Aa’ Molan ini juga berlangsung sangat menarik, sang ustadz menyampaikan materi dengan sangat gamblang mengenai insipartor yang ada di zaman para Nabi termasuk Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Banyak sekali inspirator yang lahir dikalangan kaum muslimin, sebut saja Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf, Muhammad Al-Fatih dan lain-lain. Dengan segala keutamaan yang mereka miliki dan tentu saja dapat kita jadikan suri tauladan. Karena di tengah krisis identitas yang dialami oleh kaum remaja kita saat ini, yang menghabiskan masa remajanya ditengah hedonisme dunia, lihat saja boyband dan girlband yang menjamur bak di musim penghujan, krisis moral sebagian artis Indonesia dengan kasus asusila yang seakan ‘dibiarkan’ saja dengan masih saja mengelu-elukannya, belum lagi generasi alay dan unyu-unyu, serta masih banyak lagi fenomena modernisme yang terjadi saat ini.

Acara kemarin seakan me-recharge kembali iman didada, semoga ianya membekas di hati ini dan melahirkan akhlakul karimah. Sesi kedua ini pun berakhir sekitar pukul 12 malam, dan dilanjutkan dengan istirahat untuk kembali bangun lagi pada pukul 02.30 dini hari, melaksanakan qiyamul lail serta sholat subuh. Usai sholat subuh acara pun berakhir dan semua peserta pun kembali kerutinitas masing-masing. Termasuk aku dan salahs eorang teman yang juga pergi bersamaku pada hari itu. Kami memutuskan untuk sarapan dulu di depan masjid sunda kelapa, kebenaran hari itu adalah hari ahad dan biasanya masjid mengadakan ta’lim yang juga diramaikan dengan bazaar di halaman masjid. Setelah itu kami pun bergegas untuk kembali melakukan petualangan, karena hari ahad aku harus kerja, aku pun memutuskan untuk langsung kembali ke kantor setelah mengikuti acara tersebut. Namun, karena masih ada waktu tersisa sebelum jam kantor kami pun memutuskan untuk jalan kaki sambil olah raga pagi dan menikmati pemandangan alam. Dari masjid sunda kelapa kami menuju taman suropati yang lokasinya memang cukup dekat dari masjid, dari sana kami pun melanjutkan perjalanan ke taman menteng, eh…di tengah perjalanan kami melewati SDN 01 Menteng yang konon katanya tempat presiden Amerika Barack Obama pernah menimba ilmu, jadilah kami menyempatkan diri untuk narsis dulu di sana, hehe….. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan ke taman menteng, kemudian menuju bunderan HI. Di sana sudah banyak masyarakat yang berolah raga, bersepeda dan berbagai macam aktifitas lain. Maklumlah….karena khusus hari ahad memang ada car free day, kami pun tak lupa untuk narsis dulu di sana karena jam sudah menunjukkan pukul 07.30 kami pun bergegas untuk segera pulang, niatnya sih mau jalan kaki sampai kantor tapi ternyata lumayan juga yah….jadilah kami naik kendaraan umum saja.


Aku pun menjalani rutinitas kantor seperti biasa. Jika hari ahad jam kantor dimulai pukul 09.00-17.00 WIB. Kebetulan lokasi kantorku berdekatan dengan plaza Atrium Senen, dan hari ahad ini ada acara anniversary Plaza Atrium yang ke 20 tahun dan menghadirkan bintang tamu artis terkenal Syahrini. Wah…aku pun jadi penasaran dengan artis fenomenal yang satu ini, karena selalu hadir dengan ciri khasnya yang juga selalu booming di masyarakat. Karena jam pulang kantor memang agak sore dan aku malas menghadapi kemacetan yang semakin parah melanda Jakarta belakangan ini, aku pun memutuskan untuk refreshing dulu di plaza Atrium sambil menunggu waktu maghrib. Karena jika aku pulang pada jam segitu, pastinya akan maghrib di jalan.

Usai shalat maghrib aku langsung bergegas menuju panggung perayaan ulang tahun Atrium, disana sudah banyak orang pastinya, dan aku sendirian saja loh….karena teman yang aku ajak tidak memberi kabar, tapi tak apalah no problemo aku hanya ingin mengobati rasa penasaranku saja. Setelah menunggu beberapa saat acara dibuka dan berlangsung cukup meriah, di tengah-tengah acara yang semakin dipenuhi oleh banyak pengunjung, ada segerombolan bocah yang mengambil posisi didekatku. Mereka berjumlah 5 orang, salah satunya bocah laki-laki. Aku pun berusaha menyapa mereka dengan beberapa pertanyaan mengenai latar belakang mereka. Mereka ini tinggal tidak jauh dari Atrium, yakni di keramat pulo dan bela-belain untuk datang menonton Syahrini. Aku pun akhirnya berkenalan, nama bocah-bocah ini adalah Ana, Kafi, Sandra, May dan Nova. Mereka masih duduk dibangku sekolah SD dan SMP. Tiba-tiba saja aku merasa nyaman ngobrol dengan mereka. Di saat orang tua lain melarang anaknya untuk keluar rumah, apalagi malam-malam begini namun ke 5 bocah ini malah berkeliaran. Mereka anak-anak yang ceria dan kelihatan tanpa beban. Orang tua mereka ada yang menjadi tukang ojek, tukang becak, pengamen dan ada juga yang tidak bekerja. Ternyata aku masih lebih beruntung, meski begitu mereka tetap sekolah dan ini membuatku kagum. Aku pun berusaha menyemangati mereka jangan sampai meninggalkan bangku sekolah, saat aku tanya mengenai cita-cita, mereka ada yang ingin menjadi dokter, tentara dan guru. Hmm…anak-anak yang pintar dan baik. 

Tak lama, sang artis pun muncul di panggung utama membawakan lagu dan menyapa para hadirin yang disambut dengan antusias termasuk bocah-bocah ini, sambil sesekali berteriak-teriak. Mereka terlihat sangat senang sekali, begitu polosnya mereka membuat pikiranku pun menerawang jauh memaknai kehidupan. Melihat mereka bahagia aku pun merasa bahagia, dan aku ingin sekali menambah kebahagiaan mereka malam ini. Tapi apa yah…..?! Karena sudah lumayan malam, dan cukup rasanya melihat Syahrini aku pun memutuskan untuk pulang meski acara belum selesai, mereka juga ingin ikut bersamaku dan aku pun memutuskan untuk mengajak mereka membeli ice cream.

Malam ini aku mendapat teman baru, bocah-bocah kecil ini mengajaranku bahwa Kebahagiaan itu sederhana yah…saat kita bisa membuat orang lain tersenyum dan senang dengan keberadaan kita, dan kita pun dengan senang hati memberi kepada orang yang ada di dekat kita. Terima kasih yah bocah-bocah cilik….semoga kalian menjadi orang-orang yang sukses kelak…Aamiin

26 November 2012/12 Muharram 1434H