Senin, 09 Februari 2009

Dakwah ini… Kerendahan Hati dan Kepekaan Sosial

Dakwah ini… Kerendahan Hati dan Kepekaan Sosial
(Menuju Pesta Demokrasi-Pemilu 2009)

Pesta demokrasi akan segara tiba, kita akan memilih calon pemimpin yang kita harapkan dapat membawa bangsa ini kearah yang lebih baik lagi. Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan rakyat mengalami berbagai macam kesulitan, mulai dari bencana yang melanda seperti tsunami, banjir, kebakaran, busung lapar, bahkan kenaikan harga BBM yang membuat kehidupan rakyat bertambah susah, sampai pada tindak kriminalitas yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Yang mana belakangan ini kita dikejutkan dengan berbagai berita dimedia massa nengenai pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan sang penjagal. Tentunya hal ini tak dapat dibiarkan begitu saja, akan jadi apa generasi bangsa ini ke depan? Oleh karena itu, rakyat sangat berharap pada Pemilu nanti akan terpilih pemimpin yang dapat membawa bangsa ini kearah yang lebih baik lagi. Namun, bagaimana kita dapat mewujudkan hal tersebut, pemimpin seperti apa yang tepat untuk memimpin bangsa ini? apakah masih ada pemimpin yang berpihak kepada rakyatnya dan membela kepentingan rakyatnya???

Sebelumnya saya ingin mengajak kita merenungi hakikat penciptaan kita sebagai manusia. Kita diciptakan sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini, di mana kita diwajibkan berdakwah untuk menyeru kebaikan (menyampaikan keindahan Islam ‘rahmatan lil alamin’) pada setiap insan, karena itu pulalah mengapa saya berada dalam amal jama’i ini, memilih menjadi kader dakwah. Dakwah di sini bukanlah seperti yang kebanyakan orang fikirkan yakni ceramah di masjid-masjid, peserta datang dan mendengarkan lalu duduk kemudian pulang tanpa membawa ilmu yang melekat dihati mereka dan bisa mengaplikasikannya… tetapi dakwah ini adalah bagaimana kami ‘tarbiyah’ menggali ilmu keislaman, sosial dan lain sebagainya, belajar mengenai sejarah dan kehidupan, kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan kami dan menyampaikannya ke orang lain. Mungkin apa yang telah saya dapat dan lakukan belum berarti apa-apa, saya masih balita dalam hal ini dan masih harus banyak belajar dan belajar, tapi inilah pilihanku, langkah awal bagiku dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi hingga ajal menjemputku... insya Allah. Pilihanku untuk ‘berhijrah’ tak membuatku menyesal, justru sebaliknya saya sangat bersyukur ‘ternyata Allah sangat sayang padaku hingga Ia membuatku ‘tersesat’ kejalan yang benar’, ya…tadinya saya pikir ‘tersesat’ karena memang awalnya tak berniat untuk berada disini dan sangat minim pengetahuan tentangnya. Beginilah kami dan yang menjadi cita-cita kami….

Jama’ah ini…, Dakwah ini…(saya bersyukur bisa ada didalamnya)
Dalam hubungan kejamaahan ini tidak ada reserve kecuali reserve syar’i yang menggariskan aqidah “La tha’ata limakhluqin fi ma’shiati’l Khaliq” tidak boleh ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim). Aqidah kitapun mengajarkan, tak satupun terjadi dilangit dan bumi tanpa kehendak Allah.

Berda’wah adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da’wah (kehidupan) bersama ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka yang menelantarkan modal usia yang Allah berikan dalam kemilau dunia yang menipu dan impian yang tak kunjung putus. Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah level terendah ukhuwah (lower) yakni jangan sampai merosot kebawah garis rahabatus’ shard (lapang hati) dan batas tertinggi (upper) yakni tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan sendiri). Dalam amal jama’i ini hati saling bertaut dalam ikatan aqidah, ikatan yang paling kokoh dan mahal sebab persaudaraan kita bukan karena kita satu nasab tetapi karena kita seaqidah yaitu Islam. Untuk itu sepatutnyalah sebagai kader kita memperjuangkan kebajikan bagi umat ini.

Ummat ini…perjuangkanlah!!!
Sungguh…Alangkah nikmatnya dicintai dan mencintai, Dipercaya dan mempercayai. Alangkah mengharukannya dukungan rakyat yang tanpa pamrih. Kadang mereka lebih galak membela ‘kita’, daripada ‘kita’ yang mereka bela. Rakyat bisa datang berjalan kaki bermil-mil, dalam panas dan haus. Untuk apa mereka begitu antusias? Apa jaminan caleg dan jurkam yang berjanji memperjuangkan nasib mereka? Dukungan ini tak lepas dari realita yang mereka temukan dalam kehidupan para kader dipelbagai medan kehidupan. Yang komitmen kerakyatannya tak diragukan. Yang kepekaannya terhadap nasib mereka selalu hidup dan tajam. Yang tertempa oleh keikhlasan dan kesabaran, sehingga tak tergiur oleh iming-iming dunia, KKN atau berbagai tekanan, ancaman dan godaan. Namun, tak dapat dipungkiri sebagai manusia biasa pasti ada kekhilafan disana-sini, untuk itu hanya kepada Allah sajalah kita bertaubat memohon ampunan. Allah telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah, oleh karenanya saling mendoakan sesama ikhwah menjadi ciri kepribadian kita, terlebih doa dari jauh dengan penuh keikhlasan dan cinta tanpa ada motivasi lain. Allah akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata “untukmu pun hak seperti itu” seperti pesan Rasulullah SAW. Allah-lah yang telah memberikan karunia besar ini sehingga kelengkapan amal jama’i tempat kita ‘menyumbangkan’ karya kecil kita, memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama’i kita, tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da’wah. Cukuplah kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang saling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, namun semata-mata iman dan cinta fillah.

Ada satu hal yang juga perlu kita ingat, meskipun kita telah bekerja dalam jaringan amal jama’i tapi pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara individu. Karenanya, jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah, baik dalam keadaan sendiri maupun terlihat orang. Kamanapun ia pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut dan terasing, karena Allah senantiasa bersamanya. Bahkan, ia dapatkan kebersamaan rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa. Karena itu, kader sejati yakin bahwa Allah akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang da’wah sesuai dengan janji-Nya, “in tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum” jika kamu menolong Allah, Ia pasti akan menolongmu dan mengokohkan langkahmu. Semoga para kader senantiasa mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah ditengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Masukkan diri ke dalam benteng-benteng kakuatan usrah atau halaqah tempat junud da’wah melingkar dalam suatu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan.

Renungkan dan ambillah ibrah…
Namun, Akan teruskah dukungan berdatangan, ataukah seperti penumpang bus yang silih berganti dan berbeda kepentingan atau turun dengan penuh umpatan penyesalan? Demikian mengharukan dukungan datang. Tetapi awas, tiba-tiba ia dapat berubah menjadi taufan dan amuk balik yang mematikan. Rakyat terlalu lelah untuk bisa memahami tokoh partai, kiyai muda atau aleg (anggota legislative) yang takut mengunjungi mereka karena harus berhati-hati jangan sampai kemeja mahalnya ternoda debu digubug mereka. Atau pantolannya lusuh karena duduk diatas bangku reot diwarung mereka. Atau nafasnya sesak duduk dirumah mereka yang kecil dan kurang udara. Atau jangan sampai mobil hasil dukungan rakyat tergores digang sempit tempat domisili mereka. Rasanya terlalu mewah untuk bermimpi kapan pemimpin yang mereka dukung mengikrarkan (dan membuktikan), “Bila anda perlu mengangkut keluarga yang sakit ditengah malam buta, silakan ketuk pintu dan kami akan antar kerumah rawat”. Mereka tak punya cukup keberanian untuk menyeruak rumah baru para pemimpin yang sudah serba mewah. Merekapun tak cukup mengerti bahwa ada (isteri) sesama kader juga saling menunggu, kalau-kalau tetangga yang sukses dengan dukungan kita mau ‘melempar’ mesin cuci butut atau kompor bekas yang sudah berganti dengan produk paling mutakhir. Atau membeli tambahan buku saat anak-anak mereka berbelanja, untuk teman sekelas atau anak tetangga lainnya. Oleh Karen itu, rakyat mempunyai harapan yang begitu tulus agar kebenaran dan keadilan bisa tegak ditangan para kader yang akrab dan beradab. Mereka punya basic insting yang murni untuk mendukung siapa yang jujur, asal dekat, terjangkau dan meyakinkan. Namun, Otak mereka terlalu sarat beban hidup, sehingga pilihan yang mudah diingat ialah wajah yang sering datang dan pergi. Tapi, lancung atau pendustakah mereka. Disini demokrasi menjadi mesin culas orang-orang yang ingin meraih kekuasaan dengan cara-cara licik. Partai dominant membiarkan kemiskinan untuk pada saatnya ditukar dengan suara murah dibilik pemilu. Partai mitos sengaja merawat kebodohan dan memupuknya dengan berbagai mimpi kewalian, kekeramatan dan kemenangan agar rakyat tetap mendukung dan tak meggunakan nikmat akal yang begitu mahal. Kader yang menyikapi jabatan yang diterimanya lebih sebagai amanah dari pada kehormatan, akan dengan cepat belajar menyesuaikan diri dan memahami karakteristik tugas dan tantangannya. Bawahan yang lebih pandai, diakuinya dan didorongnya untuk cepat menggapai posisi yang lebih sesuai. Mereka berendah hati, karena memang tak takut jatuh dengan merendah. Sebaliknya mereka yang bagaikan senior perpeloncoan yang kerap bermasalah dalam IP mereka, sering menampakkan gejala ketakutan ‘disaingi’. Ingatlah sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia diantara kamu ialah yang bermanfaat bagi sesamanya” .

Wallahu‘alam bisshawab
(kalam yang ku kutip dari Sang Murabbi…)
Inspired by Ustz.Rahmat Abdullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar