Oleh: Tim dakwatuna.com
As-Shaff yang bermakna barisan adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang patut menjadi bahan renungan bagi para da’i. Surat ini merupakan Ma’alim fii at-Thoriiq (petunjuk jalan) bagi aktivis dakwah. Surat ini walaupun pendek tetapi mencakup semua yang dibutuhkan para da’i dari aqidah, akhlak, sejarah, ukhuwah, obyek dakwah, sampai pada puncak ajaran Islam, yaitu Jihad di jalan Allah. Sehingga para kader wajib menghafalnya, mentadaburinya secara berulang-ulang dan mengamalkannya dalam aktivitas dakwah mereka.
Nama surat biasanya menjadi tema sentral dari substansi surat tersebut, demikian juga surat As-Shaff. Shaff adalah sesuatu yang sangat penting dan sangat menentukan keberhasilan dalam dakwah, jihad dan pergerakan Islam. Bahkan kesatuan shaff adalah persyaratan mutlak bagi kemenangan pergerakan dan dakwah Islam. Tanpa adanya kesatuan shaff, maka akan menimbulkan dampak langsung bagi kekalahan dan kegagalan dakwah dan perjuangan. Kisah perang Uhud merupakan salah satu bukti dari kekalahan perang disebabkan shaff yang berantakan, padahal sebelumnya sudah berada diambang kemenangan.
Namun demikian kesatuan shaff merupakan proses panjang dari realisasi aktivis dakwah terhadap nilai-nilai Islam. Kekuatan dan kekokohan shaff apalagi digambarkan Al-Qur’an sebagai kal-bunyaan al-marsuus (seperti bangunan yang kokoh) sangat terkait dengan nilai yang paling fundamental dari aktivis harakoh yaitu aqidah, ukhuwah dan fikrah Islam. Tanpa ada kekuatan aqidah, ukhuwah dan pemahaman yang mendalam terhadap fikrah Islam, maka mustahil kesatuan dan kekokohan shaff yang digambarkan Al-Qur’an dapat tercapai. Maka marilah kita merenungi apakah shaff dakwah kita sudah kokoh ? Apakah shaff Partai kita sudah bersatu dan kuat kal-bunyaan al-marsuus ?
Dan jika kita melihat realitas Partai Dakwah sekarang, maka sesungguhnya kita sangat membutuhkan pemimpin, figur dan tokoh Dakwah yang dapat mengokohkan shaff dan ukhuwah itu. Karena kesatuan shaff dan kekuatan ukhuwah adalah sesuatu yang paling prinsip dan mendasar dalam dakwah ini. Kita sangat membutuhkan pemimpin teladan yang dapat menjadi panutan para aktivis dakwah lainnya. Kita membutuhkan pemimpin yang zuhud yang dapat membebaskan dirinya dari fitnah harta dan jabatan.
Perjalanan dakwah masih panjang dan ujian dakwah sudah menghadang ditengah kita. Terkadang para da’i berhasil menghadapi ujian kesulitan dan penderitaan, tetapi tidak berhasil menghadapi ujian kemudahan dan kelezatan dunia, baik harta, wanita maupun jabatan. Dan demikianlah yang pernah diungkapkan oleh generasi terdahulu kita: Ubtuliina bid-dhorraa fashabarnaa ubtuliinaa bis-sharraa falam nashbir (kami diuji dengan kesulitan, maka kami bersabar, kami diuji dengan kemudahan tetapi kami tidak sabar). Oleh karenanya, hanya aktivis dakwah yang ikhlaslah yang dapat berhasil keluar dari ujian dan fitnah dalam dakwah tersebut
Surat As-Shaff memberikan Ma’alim fii at-Thariiq bagi para da’i agar tidak menyimpang dalam dakwahnya dan agar tetap teguh dalam shaff yang rapi dan kokoh walaupun ujian, fitnah dan cobaan dalam dakwah datang menghadangnya. Dan marilah kita renungi satu-persatu ayat-ayat dalam surat tersebut.
Tasbih kepada Allah (At-Tasbiih Lillah)
1. Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Seluruh mahluk Allah yang ada di langit dan bumi melantunkan tasbih kepada Allah SWT. Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mereka bertasbih dengan bahasanya masing-masing. Maka manusia sebagai mahluk Allah yang paling sempurna lebih layak untuk bertasbih. Dan para da’i yang senantiasa mengajak manusia agar beribadah dan menyembah Allah lebih layak lagi untuk bertasbih, mensucikan dan mengagungkan Allah SWT. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallahu Allahu Akbar. Kehidupan para da’i adalah kehidupan tasbih, dzikir dan do’a. Kehidupan aktivis dakwah adalah kehidupan shalat, tilawah Al-Qur’an dan menyembah Allah SWT.
Modal utama yang harus dimiliki oleh aktivis harakah adalah quwwatus shilah billah (kekuatan hubungan dengan Allah). Tanpa modal itu, maka percuma menjadi kader dakwah dan tidak akan berhasil menjadi kader dakwah. Karena perjalanan dakwah adalah perjalanan yang sulit, berliku, banyak rintangan dan panjang. Dan itu tidak akan dapat dilampui, kecuali aktivis dakwah yang memiliki quwwatus shilah billah. Pelajaran inilah yang kita dapatkan dari turunnya surat Al-Muzammil yang mengiringi tugas berat Rasul saw. mendakwahi kaumnya. Surat Al-Muzzamil mengajarkan kepada para da’i pentingnya membangun quwwatus shilah billah dengan sholat malam dan tilawatul Qur’an.
Kejujuran dalam Berkata (Shidqul Kalam)
2. Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
Allah SWT. menegur keras orang beriman dan aktivis dakwah yang mengatakan apa yang tidak diperbuat, bahkan Allah SWT. sangat membencinya. Karena aktivitas yang dominan dilakukan para da’i adalah dakwah yang banyak menggunakan ucapan. Sehingga ucapan itu harus diselaraskan dengan perbuatan. Karena ucapan yang tidak sesuai dengan perbuatan dan kenyataan adalah dusta yang merupakan sifat munafik. Sehingga kejujuran adalah modal utama berikutnya bagi para da’i.
Dan kejujuran harus dilakukan para da’i dalam dakwahnya. Jujur dalam menyampaikan risalah Islam, jujur dalam bersikap dan jujur dalam berkata-kata. Salah satu ajaran Islam yang terpenting adalah jihad dan berperang melawan musuh Allah. Tetapi kita menyaksikan banyak para penceramah yang sudah dikenal oleh orang banyak dengan sebutan ustadz atau kyai dan sebutan lainnya tidak jujur dalam menyampaikan Islam. Mereka tidak berani menyampaikan jihad, dan kalaupun menyampaikan kata jihad, maka dibatasinya dalam ruang lingkup yang sempit, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Atau semua bentuk jihad disebutkan, kecuali jihad dalam memerangi musuh Allah, baik musuh Allah itu Yahudi, Kristen maupun orang kafir lainnya.
Kejujuran dalam berkata dan bersikap merupakan keharusan bagi setiap muslim apalagi para kader dan pemimpin dakwah yang menyampaikan nilai-nilai Islam. Para kader dakwah tidak boleh memiliki standar ganda dalam perkataan dan sikap. Karena standar ganda akan merusak barisan dakwah dan menggagalkan perjuangannya. Syuro’ yang dilakukan Rasulullah saw. sebelum perang Uhud merupakan sikap kejujuran yang paling baik yang terjadi pada diri Rasul dan sahabatnya. Ketika terjadi musyawarah sebagian besar sahabat menghendaki peperangan dilakukan di luar Madinah, sementara Rasulullah saw. cenderung peperangan dilakukan di Madinah. Pendapat Rasul diikuti sahabat lain, tetapi mayoritas sahabat terutama para pemuda yang belum ikut perang Badar menghendaki perang dilakukan diluar Madinah. Akhirnya, Rasulullah saw. mengikuti pendapat mayoritas dan perang dilakukan diluar Madinah. Dan Rasulullah saw. memimpin langsung perang tersebut. Demikianlah, kejujuran adalah bagian dari prinsip bagi kader dan pemimpin dakwah dalam aktivitas dakwahnya.
Perang di Jalan Allah dalam Satu Barisan yang Kuat (Al-Qitaal fii Sabilillah Shaffan)
4. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Kehidupan di dunia sejatinya merupakan peperangan antara kebenaran dan kebatilan. Perang antara para pengikut kebenaran dan pengikut kebatilan semenjak mulai nabi Adam as versus Iblis la’natullah. Inilah logika dan aqidah yang harus melandasi para da’i dalam berdakwah. Dan puncak peperangan adalah perang fisik dan perang peradaban. Peradaban Materialisme dan Peradaban Islam akan terus menerus bersaing dan berperang untuk meraih kemenangan. Peradaban Materialisme di komandani oleh penguasa kafir dan diktator dari dahulu sampai akhir zaman. Mereka adalah Namrud, Firaun, Qorun, Abu Jahal, Abu Lahab, Lenin, Stalin, Hitler, Goerge Bush dan anaknya Goerge Walker Bush, Ariel Saron dll. Sedangkan peradaban Islam dipimpin oleh para nabi as sampai nabi terakhir nabi Muhammad saw. Khulafaur Rasyidin, dan para ulama yang tegak membawa panji kebenaran.
Perang fisik memang jalan terakhir jika orang-orang kafir tidak mempan dengan logika dan fikiran. Karena Islam, sesuai dengan namanya adalah agama cinta damai dan mengutamakan perdamaian. Perang fisik bukanlah tujuan, tetapi sarana agar orang hanya tunduk kepada kebenaran dan agar tidak ada lagi fitnah yang disebarkan musuh-musuh Allah. Islam menghendaki tidak ada kerusakan dan kezhaliman di muka bumi. Dan para da’i bertugas untuk mengajak manusia agar mereka tunduk kepada kebenaran, tidak melakukan kezhaliman dan kerusakan.
Pada saat jalan lain buntu, tujuan perdamaian tidak tercapai dan manusia tidak merasa aman, maka perang fisik adalah sarana yang paling ampuh untuk menegakkan keamanan dan perdamaian tersebut. Allah SWT. berfirman, artinya:” Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mu’min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya)” (QS An-Nisaa’ 84).
Mengambil Pelajaran dari Dakwah Para Rasul as. (Akhdzul ibroh min Da’watir Rusul)
5. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
6. Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.
Para Rasul yang besar adalah Rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi, mereka adalah nabi Nuh as., nabi Ibrahim as., nabi Musa as., nabi Isa as., dan nabi Muhammad saw. Dan dalam surat ini menceritakan dua nabi besar yang pengikutnya paling besar setelah nabi Muhammad saw. Dan peradaban umat manusia terbesar sekarang dari ketiga pengikut nabi tersebut, yaitu nabi Musa as. nabi Isa as. dan nabi Muhammad saw. Nabi Musa as. diklaim oleh bangsa Yahudi, walaupun mereka sendiri mengingkari ajaran nabi Musa as. dan kitab sucinya. Sedangkan nabi Isa as diklaim oleh kaum Nashrani (Kristen), walaupun mereka mengingkari ajaran tauhid nabi Isa dan kitabnya. Dan kedua nabi besar tersebut berasal dari Bani Israil yang sekarang mendominasi masyarakat barat. Sedangkan umat nabi Muhammad saw. adalah umat Islam yang mendiami dunia Islam dan sebagian di wilayah lainnya.
Kedua ayat diatas menceritakan bagaimana keingkaran umat nabi Musa as. dan umat nabi Isa as pada nabinya. Jadi jika nabi dari kaumnya sendiri saja diingkari, apalagi jika datang nabi dari kaum yang lain, yaitu nabi Muhammad dari bangsa Arab. Inilah yang sekarang terjadi, permusuhan dan kebencian Yahudi dan Nashrani kepada Islam dan umat Islam. Dan aqidah inilah yang harus diyakini oleh semua umat Islam. Allah SWT. berfirman, artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS Al- Baqarah 120).
Dan ayat-ayat berikutnya dari surat As-Shaff akan menceritakan bagaimana kebencian dan upaya orang-orang kafir tersebut memusuhi Islam dan umat Islam. Dan bagaimana mereka berupaya semaksimal mungkin memadamkan cahaya Islam tersebut.
Mengetahui Hakekat Orang Kafir (Ma’rifah Haqiqat al-Kuffar)
7. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
8. Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
9. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.
John Elpostito menawarkan tesis Dialog Peradaban, dan tentu saja teori itu sejalan dengan ruh Islam yang sangat mencintai perdamaian. Namun, mungkinkah Dialog Peradaban tersebut dapat terealisir? Sedangkan Samuel Hutington memiliki tesis tersendiri, yaitu Konflik Peradaban atau Perang Peradaban. Dan nampaknya, tesis inilah yang dekat dengan sifat-sifat orang kafir yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Orang-orang yang menolak Islam adalah orang yang paling zhalim, karena mereka menolak kebenaran.
Lebih jauh dari itu orang-orang kafir berupaya sekuat kemampuan mereka untuk memadamkan cahaya Islam dengan segala potensi, kekayaan dan jiwa mereka. Media masa adalah sarana yang paling efektif yang mereka gunakan untuk memadamkan cahaya kebenaran itu. Televisi mereka gunakan untuk merusak citra Islam, dan mempropaganda agama mereka. Pada saat yang sama mereka mempublikasikan segala bentuk kemusyrikan dan kemaksiatan lewat televisi yang mereka kuasai. Misionaris datang ke dunia Islam bersama para penjajah, menawarkan ‘cinta kasih’ dengan makanan, kesehatan dan bantuan lainnya. Cinta kasih yang berisi racun itu banyak membuat umat Islam yang miskin terbuai dan mengikuti mereka. Maka bertebaranlah gereja dan yayasan sosial milik misionaris di dunia Islam. Tetapi pengorbanan dan upaya maksimal yang dilakukan orang-orang kafir untuk memadamkan cahaya Islam tidak akan berhasil. Karena agama ini adalah milik Allah dan Allah akan memenangkan agama-Nya walaupun mereka benci.
Pada saat mereka merasa tidak mampu memadamkan cahaya Islam dengan media masa itu, maka mereka menggunakan senjata terakhir, yaitu perang fisik dan pemusnahan umat Islam. Inilah hakekat yang harus diketahui orang-orang beriman dan para da’i. Hakekat ini telah terbukti dengan realitas yang terjadi. Inilah yang terjadi di Palestina, Bosnia, Irak, Afghanistan, Rusia, India, Pilipina, Thailand, Burma, Singapura, Timor Timur, Maluku dll. Di Palestina umat Islam dibantai oleh Yahudi, di Rusia umat Islam dibantai oleh komunis, di Bosnia, Pilipina, Muluku dll umat Islam dibantai Kristen, di India umat Islam dibantai oleh Hindu, di Thailand dan Burma umat Islam dibantai oleh Budha. Demikianlah umat Islam menjadi musuh bersama, hanya karena mereka menyembah Allah. Dan sangat jika Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan bahwa kekafiran adalah satu agama.
Berdagang dengan Allah (At-Tijarah Ma’allah Ta’ala)
10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
12. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
13. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Setelah para da’i mengetahui tentang hakekat orang-orang kafir, kemudian Allah mengajak mereka pada suatu bisnis yang menguntungkan mereka dunia dan akhirat. Karena musuh-musuh Allah hanya dapat dihadapi dan dikalahkan oleh orang-orang yang siap berbisnis dengan Allah. Namun demikian bisnis ini syaratnya berat, sehingga tidak semua orang beriman mengikutinya. Bisnis ini syaratnya adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Hanya orang yang tahu (berilmu) agama yang mendalamlah yang dapat mengikti bisnis ini. Ilmu yang membuat orang beriman semakin khusu’ dan lebih mengutamakan kehidupan yang mulia dan kehidupan yang kekal di akhirat.
Bisnis ini sangat besar imbalannya, yaitu ampunan dari Allah atas dosa-dosa yang dilakukan, surga Allah yang penuh dengan kenikmatan berupa air yang mengalir, dan rumah-rumah yang indah. Dan tambahan yang lain berupa pertolongan Allah dalam kehidupan dunia dan kemenangan yang dekat atas musuh-musuhnya. Jihad memang satu-satunya jalan menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kabar gembira ini diperuntukkan bagi orang-orang beriman, yaitu orang yang tidak tertipu dengan segala fasilitas dunia. Orang beriman tidak mudah tunduk patuh dan loyal kepada orang-orang kafir dan fasik. Orang beriman menjadikan aktivitas politiknya untuk kemenangan Islam dan umatnya, bukan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Orang beriman adalah orang yang yakin akan hari akhirat dan perjumpaan dengan Allah sehingga berupaya zuhud dari kehidupan dunia dan tidak membuat istana di dunia. Allah SWT. berfirman, artinya: “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Al-Qashash 83)
Jadilah Penolong Allah (Kunuu Anshrallah)
14. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.
Dan puncak dari tawaran Allah adalah tawaran untuk menjadi penolong Allah (Anshorullah). Maukah kita menjadi tentara Allah ? Maukah kita menjadi penolong Allah ? Padahal sejatinya Allah tidak membutuhkan pertolongan kita. Tetapi inilah bahasa yang sangat indah, bujukan yang sangat halus, ajakan yang tidak ada yang bisa menangkapnya kecuali orang-orang yang beriman dan para da’i yang hatinya hidup serta siap memberikan sesuatu yang terbaik untuk agama Allah. Dan sebagai buahnya adalah dominasi dan kemenangan Islam serta kejayaan umat Islam. Wallahu A’lam Bishawaab.
Kita tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Karena, semua manusia itu baik kalau kita bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kita bisa melihat keunikannya. Tapi, semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kita tidak bisa melihat keduanya.
Rabu, 25 Februari 2009
Jumat, 20 Februari 2009
Mahasiswa Galang Dana untuk Palestina
Kampus I, UINJKT Online - Tragedi kemanusiaan yang menimpa ribuan warga Palestina mengundang simpati jutaan rakyat di dunia. Kini, giliran mahasiswa UIN Jakarta yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa LDK menggalang dana untuk para korban.
"Hati kami terketuk untuk ikut membantu para korban Palestina yang notabene warga sipil tak berdosa. Untuk itu kami menggalang dana," kata Asbah Pratama, Koordinator Pos Solisaritas Umat (PSU), kepada UINJKT Online di Masjid Al Jamiah, Selasa (13/1).
Menurut Asbah, penggalangan dana dilakukan dengan berkoordinasi ke setiap Dewan Komisariat Dakwah (Komda) LDK yang ada di setiap fakultas. Mereka membentuk kepanitiaan dan meminta partisipasi kepada setiap anggota untuk menyisihkan infaknya.
"Bahkan sampai kader-kader LDK menyisihkan uang jajannya setiap hari untuk pengumpulan dana buat warga Palestina ini," kata mahasiswa FEIS ini.
Selain di setiap fakultas, penggalangan dana juga dilakukan di Masjid Al Jamiah Student Center dengan cara menyediakan kotak amal. "Pada wisuda ke-74 kemarin, kami juga membuka stand penggalangan dana. Alhamdulillah terkumpul Rp 5 juta."
Dana-dana itu, katanya, akan digabung dengan dana yang dikumpulkan oleh lembaga lain seperti Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa), Ikatan Remaja Masjid Fatullah (Irmafa) dan Solidaritas Aceh. Semuanya akan dimasukkan ke rekening resmi penggalangan dana Palestina.
Puncak penggalangan dana akan berakhir Januari ini. Sedianya stand-stand penggalangan dana tidak hanya dibuka di fakultas, tapi juga di sejumlah titik keramaian. Di samping panitia juga akan memasang foto-foto tragedi kekejaman Israel.
Saat Asbah ditanya komentarnya tentang perang tragedi kemanusiaan itu, ia mengatakan tragedi tersebut merupakan propaganda Barat. Teroris sebenarnya adalah Israel dan Amerika.
Asbah mengharapkan setiap warga Muslim untuk memanjatkan doanya untuk keselamatan atas warga Palestina.*
Reporter: Hamzah
www.uinjkt.ac.id
"Hati kami terketuk untuk ikut membantu para korban Palestina yang notabene warga sipil tak berdosa. Untuk itu kami menggalang dana," kata Asbah Pratama, Koordinator Pos Solisaritas Umat (PSU), kepada UINJKT Online di Masjid Al Jamiah, Selasa (13/1).
Menurut Asbah, penggalangan dana dilakukan dengan berkoordinasi ke setiap Dewan Komisariat Dakwah (Komda) LDK yang ada di setiap fakultas. Mereka membentuk kepanitiaan dan meminta partisipasi kepada setiap anggota untuk menyisihkan infaknya.
"Bahkan sampai kader-kader LDK menyisihkan uang jajannya setiap hari untuk pengumpulan dana buat warga Palestina ini," kata mahasiswa FEIS ini.
Selain di setiap fakultas, penggalangan dana juga dilakukan di Masjid Al Jamiah Student Center dengan cara menyediakan kotak amal. "Pada wisuda ke-74 kemarin, kami juga membuka stand penggalangan dana. Alhamdulillah terkumpul Rp 5 juta."
Dana-dana itu, katanya, akan digabung dengan dana yang dikumpulkan oleh lembaga lain seperti Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa), Ikatan Remaja Masjid Fatullah (Irmafa) dan Solidaritas Aceh. Semuanya akan dimasukkan ke rekening resmi penggalangan dana Palestina.
Puncak penggalangan dana akan berakhir Januari ini. Sedianya stand-stand penggalangan dana tidak hanya dibuka di fakultas, tapi juga di sejumlah titik keramaian. Di samping panitia juga akan memasang foto-foto tragedi kekejaman Israel.
Saat Asbah ditanya komentarnya tentang perang tragedi kemanusiaan itu, ia mengatakan tragedi tersebut merupakan propaganda Barat. Teroris sebenarnya adalah Israel dan Amerika.
Asbah mengharapkan setiap warga Muslim untuk memanjatkan doanya untuk keselamatan atas warga Palestina.*
Reporter: Hamzah
www.uinjkt.ac.id
Seruan Dakwah dariku…(dan untukku)
Dakwah ini memang berat dan berliku…
Apakah kau akan tetap bertahan atau berhenti sampai disni?
Dakwah ini membutuhkan pengorbanan…
Apakah kau ikhlas dengan semua yang telah kau berikan?
Dakwah ini adalah pengabdian…
Karena kau adalah milik-Nya
Dakwah ini tak berarti apa-apa…
Jika Allah bukan menjadi tujuannya
Tidakkah kau sadar hakikat penciptaanmu di bumi ini???
Ibadah… ya, itu benar !!!
Dan kau adalah khalifah-Nya
Jika kau tau, lalu tunggu apalagi…
Kita tak punya banyak waktu untuk dakwah ini
Sementara jalan panjang dan berliku menanti di hadapan kita
Bangkitlah saudaraku…
Tegakkan Dienullah di bumi ini
Andai dunia ini masih dianggap berharga
Bukankah akhirat itu jauh lebih berharga dan mulia
Andai jasad ini memang diciptakan untuk mati
Maka, bukankah mati di jalan Allah lebih mulia.
Sungguh… tak ada yang lebih pantas kau dapatkan
Selain keridhoan Tuhanmu
Allahu Akbar…
Apakah kau akan tetap bertahan atau berhenti sampai disni?
Dakwah ini membutuhkan pengorbanan…
Apakah kau ikhlas dengan semua yang telah kau berikan?
Dakwah ini adalah pengabdian…
Karena kau adalah milik-Nya
Dakwah ini tak berarti apa-apa…
Jika Allah bukan menjadi tujuannya
Tidakkah kau sadar hakikat penciptaanmu di bumi ini???
Ibadah… ya, itu benar !!!
Dan kau adalah khalifah-Nya
Jika kau tau, lalu tunggu apalagi…
Kita tak punya banyak waktu untuk dakwah ini
Sementara jalan panjang dan berliku menanti di hadapan kita
Bangkitlah saudaraku…
Tegakkan Dienullah di bumi ini
Andai dunia ini masih dianggap berharga
Bukankah akhirat itu jauh lebih berharga dan mulia
Andai jasad ini memang diciptakan untuk mati
Maka, bukankah mati di jalan Allah lebih mulia.
Sungguh… tak ada yang lebih pantas kau dapatkan
Selain keridhoan Tuhanmu
Allahu Akbar…
Rabu, 18 Februari 2009
CINTA
Cinta…kata-kata ini sudah gak asing lagi kali ya di telinga kita, bahkan mungkin jadi bahan yang gak ada abis-abisnya buat di omongin. Cinta bagiku universal, karena sebagai makhluk paling sempurna yang Allah ciptakan kita dapat menebar cinta ke siapa aja. Mulai dari manusia, hewan, lingkungan, pokoke alam semesta ini. Cinta itu suci yang melahirkan peradaban yang suci yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, tapi sayang apa yang terjadi sekarang jauh dari cinta suci, cinta telah terkotori oleh orang-orang yang menterjemahkan cinta dengan dangkal sehingga bermuara kepada nafsu syahwat. Mengapa??? Karena yang terjadi adalah cinta diwujudkan dengan rasa suka kepada lawan jenis yang berlebihan, kepada harta/materi, kepada kekuasaan, kepada makhluk/benda, yang semuanya adalah semu. memang rasa cinta adalah fitrah manusia namun bukan berarti dapat diterjemahkan dengan bebas tanpa batas aturan. Agama kita yang Rahmatan lil Alamin telah memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas dalam menjalani kehidupan ini, kita tidak perlu repot-repot lagi membuat aturan sendiri, dari mulai kita hendak tidur sampai kita bangun dan kembali tidur lagi, kesemuanya ada adab-adabnya. Subhanallah…sesungguhnya Dialah yang telah menciptakan kita, dan Dia tau pula apa yang kita butuhkan. Lalu, mengapa kita masih saja tidak mau menuruti perintah-Nya… cinta hakiki hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW, karena dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya secara otomatis kita akan mencintai semua makhluk ciptaan-Nya sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya dan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya.
Ya Allah...Aku Jatuh Cinta
Ya Allah...
Aku telah jatuh cinta pada keagungan qadaMU
pada kemanisan qadarMU
pada kecantikan nur wajahMU
pada keluasan ampunanMU
Ya Allah...
Aku telah benamkan diri dalam kefanaan
sedang Engkaulah yang meneguhkan niatku dengan syariatMU
sedang Engkaulah yang menanamkan keyakinanku dengan hakikatMU
sedang Engkaulah yang menyampaikan tujuanku dengan ma'rifatMU
Ya Allah...
Kau telah penuhi hatiku dengan cintaMU
Kau telah basahi lisanku dengan dzikirMU
Kau telah tunjukkan sinar langkahku dengan thareqatMU
Duhai...
Bila saatnya tiba
Sang kekasih hanya dapat merindukan perjumpaan
Duhai...
Dimanakah tempat bila KAU tidak berada disisiku ?
Dimanakah langkah bila KAU tidak dalam pijakanku ?
Allah... Allah... Allah
Bila hatiku terlalu gelap dengan kema'siatan
Dalam kejaran bisikan syetan
Kumohon kau bukakan hijabMU
Celupkan diriku dalam lautan pintu taubatMU
Allah... Allah... Allah
Engkaulah yang Maha Hidup
Engkaulah yang Maha Abadi
Hidupkanlah hatiku yang mati
Suburkan padanya dengan mahabbahMU
Dalam keabadian cintaMU
Abdurrahman Zaid Abdussalam Ibn Muhammad Ibn Al-wirsad Ibn As-sadur
Senin, 16 Februari 2009
Episode perjalanan kehidupan seorang v3
Ketika itu… tahun 2004 yang lalu, sekitar akhir bulan Juli setelah aku menyelesaikan pendidikanku di bangku SMK. Tak terbersit difikiranku untuk langsung melanjutkan pendidikian ke perguruan tinggi, walaupun keinginan itu ada. Yang ada dalam perencanaanku adalah setelah menamatkan sekolah langsung mencari pekerjaan, bahkan planning itu sebenarnya sudah tergambar diotakku setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMP, itulah kenapa aku memilih untuk melanjutkan sekolah di tingkat SMK bukan SMU karena aku fikir dengan masuk di sekolah kejuruan akan mudah mencari kerja setelahnya… Mmm, tapi itulah “manusia hanya bisa berencana tapi tetap saja Allah yang menentukan”.
Sekitar awal Agustus 2004 ada saudara ku yang datang dari Jakarta , kebetulan beliau punya yayasan yang fokus pada bidang pendidikan. Tadinya beliau akan ke Singapura untuk mengantar siswa-siswa di sekolahnya dalam rangka study, ya udah…sekalian mampir kerumahku di Batam yang kebetulan kan deket banget sama Singapura. Nah…karena beliau tau dari orang tuaku bahwa aku baru aja selesai menamatkan sekolah, beliau langsung menawarkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di yayasan yang ia pimpin. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya orang tuaku terutama ibuku menyetujui… bisa dibayangkan donk!!! Aku yang tadinya ngga ada pikiran dan perencanaan sama sekali, tiba-tiba dihadapkan pada pilihan yang sulit, ya…bagiku ini sulit karena harus menentukan jurusan apa yang akan aku ambil nantinya sementara aku ngga’ punya gambaran tentang kuliah dengan segala persiapannya, terus aku akan berpisah dari orang tua dan keluarga ku, di tambah lagi aku udah janji ama temen-temen untuk nyari kerja bareng-bareng setelah tamat sekolah… tapi… di satu sisi ini adalah kesempatan yang sangat baik dan mungkin nggak datang dua kali, akhirnya akupun menerima tawaran ini.
Dengan berbagai persiapan yang seadanya, akhirnya tanggal 4 Agustus 2004 aku berangkat ke Jakarta… sungguh berat memang meninggalkan segala yang ada di Batam, udah gitu aku ngga bisa membayangkan bagaimana kehidupanku nanti di Jakarta, ini baru pertama kalinya aku berpisah sangat jauh dengan keluarga ku. Apalagi aku belum kenal dengan keluarga di Jakarta, ini adalah pertemuan perdana ku dengan mereka… tau ngga, di atas pesawat aku baru bisa menumpahkan air mataku setelah pesawat meninggalkan landasan bandara Hang Nadim Batam, aku baru merasakan sedih dan benar-benar sadar bahwa aku akan berpisah jauh dengan keluargaku…hikz!!!
Dengan berbagai persiapan yang seadanya, akhirnya tanggal 4 Agustus 2004 aku berangkat ke Jakarta… sungguh berat memang meninggalkan segala yang ada di Batam, udah gitu aku ngga bisa membayangkan bagaimana kehidupanku nanti di Jakarta, ini baru pertama kalinya aku berpisah sangat jauh dengan keluarga ku. Apalagi aku belum kenal dengan keluarga di Jakarta, ini adalah pertemuan perdana ku dengan mereka… tau ngga, di atas pesawat aku baru bisa menumpahkan air mataku setelah pesawat meninggalkan landasan bandara Hang Nadim Batam, aku baru merasakan sedih dan benar-benar sadar bahwa aku akan berpisah jauh dengan keluargaku…hikz!!!
Kehidupan baruku dimulai dari sini…memang aku merasakan tidak atau tepatnya belum ada yang istimewa dengan semua ini, tapi satu yang paling aku ingat adalah ketika aku memutuskan menerima tawaran untuk kuliah ini maka disinilah keinginanku untuk memakai jilbab terwujud. Ya…karena saudaraku menyarankan untuk memakai jilbab ketika akan ke Jakarta , memang keputusan ini awalnya didasari atas pertimbangan itu walaupun sebenarnya pada waktu SMK keinginan ini juga sudah ada tapi selalu banyak pertimbangan yang sebenarnya tidak begitu penting. Tapi sekarang aku sudah meluruskan niat kok…kenapa sampai harus memakai pentup kepala dan bahkan bukan hanya itu yaitu membungkus seluruh tubuh dengan busana muslimah. (mmm…ini adalah hikmah yang sangat berarti bagiku)
Nah…sesampainya di Jakarta nih… saudaraku bertanya, aku akan memilih jurusan apa??? Duh…asli aku bingung banget coz ga ada gambaran sama sekali, tapi karena harus memutuskan maka akhirnya aku memilih masuk ke fakultas ekonomi jurusan akuntansi karena background ku dulu juga akuntansi. Truss yang tadi rencananya aku akan di masukin ke yayasan beliau jadinya berubah setelah aku di Jakarta, beliau menyarankan agar aku ikut tes di universitas negeri aja dulu, klo nanti ga lulus baru masuk di yayasannya. Ya udah, aku pun mengikuti saran itu.. dan Alhamdulillah setelah mengikuti tes di Universitas Islam Negeri Jakarta aku lulus…Status baruku sebagai mahasiswa pun aku jalani tepatnya di bulan September 2004, lingkungan kampus yang megah, luas dan tentunya islami aku dapati disni. Aku seneng banget deh…dan mulai beradaptasi dengan lingkungan baruku. Persyaratan sebagai mahasiswa baru pun aku ikuti (atau yang biasanya orang tau namanya ospek, klo disini propesa alais program pengenalan study n almamater). Setelah itu perkuliahan demi perkuliahan pun aku jalani… Alhamdulillah, banyak banget yang aku dapat disini (yah..mungkin inilah yang ingin Allah tunjukkan kepadaku dibalik semua ini) mulai dari mendapat banyak ilmu, pergaulan dengan teman-teman yang heterogen dan tentunya pengalaman organisasi yang memberikan banyak pelajaran. Semua ini sangat mempengaruhi hidupku (bagaimana menjalani hidup) dan membuatku menjadi lebih dewasa tentunya.
Sekarang tak terasa aku udah semester akhir, ya Allah…begitu cepat waktu berlalu. Semoga apa yang telah aku dapatkan disini dapat aku pergunakan dengan sebaik-baiknya dalam mengarungi kehidupan ini, khairunnas anfauhum linnas “sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia yang lain”, amin……
Organisasi Kampus_Q
Di kampus banyak banget organsisai atau unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bisa diikuti, mulai dari yang suka pramuka, fotografi, teater, nyanyi, qori-qoriah, pecinta alam, dan masih banyak lagi deh yang lainnya. Tadinya di awal masuk kampus aku punya keinginan masuk ke UKM RIAK yang isinya adalah mahasiswa yang menyukai bidang seni seperti ngeband, soalnya dulu waktu di sekolah aku sempat beberapa kali tergabung dalam beberapa grup band…(he…^_^) tapi ga tau kenapa aku kok ga jadi-jadi yah buat ngedaftar, padahal aku juga sempat ditawarin masuk ke PSM (paduan suara mahasiswa). Tapi ga ada yang jadi aku ikutin, sampai akhirnya aku memutuskan untuk aktif di BEM aja, disamping itu juga aktif di UKM LDK (lembaga dakwah kampus). Kalau keikutsertaan di BEM mungkin udah biasa bagiku karena sebelumnya di sekolah juga pernah aktif di OSIS tapi kalau ikut bergabung di LDK bagiku suatu hal yang luar biasa, yah…karena disinilah aku mendapat banyak pengalaman dan tentunya pelajaran berharga yang takkan bisa tergantikan (cie…udah kayak apa aja??? Tapi emank bener koq…!!!).
Pelajaran berharga yang aku maksud disini adalah tentang Agama, yah agama Islam tentunya. Selama ini mungkin yang ada di otak kita (aku maksudnya…) tentang agama khususnya Islam itu hanyalah mengenai ibadah seperti solat, puasa, zakat atau haji. Padahal masih banyak lagi yang diatur dalam agama itu mengenai kehidupan kita di dunia maupun di akhirat, aku sangat bersyukur kepada Allah yang telah menunjuki jalan ini kepada ku. Pada mulanya keikutsertaanku dalam LDK juga gak sengaja, awalnya aku cuma ikut diskusi tentang keagamaan dengan para aktivisnya (mentoring atau liqo’), karena aku sangat senang membahas masalah agama, mungkin karena dulu pernah sekolah di madrasah ibtidaiyah kali ya (atau memang ini adalah kehendak Allah yang menunjukkan jalan hambanya…Ihdinal sirathal mustakim). Dari situ akhirnya aku rutin mengikuti diskusi ini, aku memang tidak keberatan dengan forum diskusi ini tapi jika diajak untuk ikutserta atau aktif dalam organisasinya aku gak mau (itu adalah pemikiran awalku). Tapi…setelah sering mengikuti diskusi ini dan mendapat banyak ilmu serta mengerti dan juga paham bahwa ini semua tujuannya mulia akhirnya aku memutuskan untuk ikut serta juga. Memang semua ini tidak serta merta terjadi begitu saja, semuanya melalui proses yang cukup panjang dengan berbagai pertimbangan.
Gak tau kenapa awalnya aku kok ga mau bergabung di organisasi ini, apalagi klo ngliat para aktivisnya terutama yang perempuan dengan jilbabnya yang besar dan banyak yang bilang mereka itu eksklusif. Aku pernah bertanya ke seorang mahasiswa, “mereka itu organsisasinya apa??? Truz dia bilang, “oh…itu anak LDK, mereka itu klo ngobrol sama cowok jaraknya jauh banget, yang cewek disini yang cowok disitu (sambil menunjuk kearah yang berjauhan) truz matanya kemana… yang diajak bicara dimana…” itu adalah salah satu pandangan “miring” yang aku dengar tentang mereka. Tapi aku gak lantas ikut sentimentil gitu juga ke mereka, aku tetap masih ikut kajian rutin yang mereka adakan. Dari sinilah akhirnya pikiranku mulai terbuka dan tentunya mengetahui alasan mengapa mereka sampai bersikap seperti itu… jawabannya adalah karena mereka mengamalkan niali-nilai Islam. Islam sebagai rahmatan lil alamin memberikan aturan dalam segala segi kehidupan kita (ekonomi, politik, sosial, dll). tidak hanya mendapat ilmu bagaimana cara beretika (berakhlakul karimah), tapi juga bagaimana berorganisasi dengan niat ikhlas dan tujuan mulia yang tentunya semua itu adalah atas dasar/semata-mata karena ibadah kepada Allah SWT sebagaimana tujuan penciptaan manusia dimuka bumi ini.
Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepadaku… hidayah yang aku dapati ini tidak bisa dinilai dengan apapun. Salah satunya adalah ini nih: Dimasa-masa awal kuliah aku sama seperti mahasiswa lainnya, dengan model pakaian anak-anak jaman sekarang, t-shirt atau kemeja, ditambah dengan celana panjang yang kadang-kadang malah pakai celana jeans truz dengan jilbab yang seadanya (pokoke asal udah menutup kepala, malah bahkan kadang-kadang dililit dileher). Tapi gak tau kenapa lama-lama merasa risih juga, pake jilbab tapi kok gini, klo kerudungnya ketiup angin malah repot harus dipegangin biar lehernya gak keliatan, truz klo pake celana ketat atau baju kekecilan gak enak aja gitu, pokoke risih deh… nah, karena udah ngikutin kajian dan udah dapat ilmu bagaimana seharusnya muslimah itu berpakaian akhirnya sedikit demi sedikit aku mencoba untuk melakukan itu, yang tadinya suka pake celana diganti dengan rok, truz bajunya juga rada panjangan, klo jilbabnya agak dilebarin ampe menutup dada (yang aku tau klo para akhwat “sebutan untuk saudara perempuan” aktivis dakwah itu pake jilbabnya malah dua lapis), lama kelamaan aku merasa nyaman dengan pakaian ini dan tentu saja masih banyak belajar bagaimana berpakaian yang benar menurut syariahnya.
Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepadaku… hidayah yang aku dapati ini tidak bisa dinilai dengan apapun. Salah satunya adalah ini nih: Dimasa-masa awal kuliah aku sama seperti mahasiswa lainnya, dengan model pakaian anak-anak jaman sekarang, t-shirt atau kemeja, ditambah dengan celana panjang yang kadang-kadang malah pakai celana jeans truz dengan jilbab yang seadanya (pokoke asal udah menutup kepala, malah bahkan kadang-kadang dililit dileher). Tapi gak tau kenapa lama-lama merasa risih juga, pake jilbab tapi kok gini, klo kerudungnya ketiup angin malah repot harus dipegangin biar lehernya gak keliatan, truz klo pake celana ketat atau baju kekecilan gak enak aja gitu, pokoke risih deh… nah, karena udah ngikutin kajian dan udah dapat ilmu bagaimana seharusnya muslimah itu berpakaian akhirnya sedikit demi sedikit aku mencoba untuk melakukan itu, yang tadinya suka pake celana diganti dengan rok, truz bajunya juga rada panjangan, klo jilbabnya agak dilebarin ampe menutup dada (yang aku tau klo para akhwat “sebutan untuk saudara perempuan” aktivis dakwah itu pake jilbabnya malah dua lapis), lama kelamaan aku merasa nyaman dengan pakaian ini dan tentu saja masih banyak belajar bagaimana berpakaian yang benar menurut syariahnya.
Disamping masalah jilbab ini, aku juga banyak belajar tentang bagaimana berorganisasi yang baik, selama ini yang aku liat dari teman-teman organisasi sebelumnya pasti kebanyakan ikut organisasi karena orientasi dunia (apalagi klo udah ada pemilu kampus trus demo-demo yang gak jelas itu), nah tapi klo disini aku menemukan hal yang berbeda… mereka berorganisasi untuk ibadah, ya..berdakwah!!! banyak banget kegiatan yang kita lakukan, dari kegiatan akademis, seni sampai kegiatan sosial. Selain itu nuansa persaudaraan terasa benget disini, walaupun persaudaraan kita bukan dipersatukan oleh nasab tapi rasa persatuan itu ada karena kita adalah saudara sesama muslim, dan itulah sebenarnya yang paling penting. Bukan hanya di internal organisasi aja kita mencipatakan suasana hangat seperti itu tapi berusaha kita tebarkan ke orang-orang disekitar kita. Sekarang aku benar-benar mencintai organisasi ini dan orang-orang yang ada didalamnya… namun, perjuangan untuk berdakwah dikampus bukanlah hal yang mudah, karena meskipun ianya berlabel kampus Islam tapi kehidupan orang-orangnya tidak semuanya mencerminkan keislaman itu sendiri (seperti jeruk makan jeruk). Ini menjadi tantangan bagi kami para aktivis dakwah, kami juga harus menjadi teladan karena bagaimana mungkin hendak menyampaikan kebaikan jika yang menyampaikan belum menjadi baik dan ini tentu menjadi hal serius/tantangan. Belum lagi menghadapi orang-orang yang berpandangan “negative” tentang kami, misalnya aja nih yang paling berasa ketika dikampus ada pemilu raya, pernah tuh calon dari organisasi kita difitnah yang macam-macam…biarlah Allah saja yang tau dan membalas semuanya.
Senin, 09 Februari 2009
Belajar…takkan henti!!!
Senin, 9 feb 09
Alhamdulillah…puji syukur selalu terhaturkan kepada-NYA, shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah SAW.
Sungguh ilmu Allah itu sangat banyak tak terhingga, ingin aku lukiskan dengan pena bertinta air lautan yang luaspun tak akan mampu aku lakukan. Semalam, rutinitas tarbiyah telah ku lakukan bersama teman-teman yang lain… satu lagi pelajaran berharga yang kami dapatkan mengenai optimisme.
Optimisme dalam Islam sebenarnya telah tergambar jelas dalam Al-Qur’an, betapa Allah sangat mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Sebagai ummat paripurna yang di ciptakan Allah kita diajak untuk terus berfikir dengan akal yang diberikannya (membaca) tentang kehidupan ini, sebab apapun yang kita lalui dalam mengarungi samudera kehidupan ini selalu ada pelajaran berharga didalamnya, baik itu ketika kita mendapatkan kesenangan maupun dalam keadaan kesusahan.
Berprasangkan baik kepada Allah itu adalah mutlak, jika kita ingin mendapatkan keridhoan-NYA sebab sesuai dengan firman-NYA “Aku adalah sesuai dengan apa prasangkaan hamba-Ku”. Subhanallah…tak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita berjalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-NYA. Oleh karena itu, sepatutnyalah ketika kebahagiaan menghampiri kita rasa syukur tak lupa terucap kepada Sang pemberi nikmat, pun ketika kesulitan datang anggaplah ia sebagai cobaan yang Allah berikan karena Ia sayang kepada kita. Jadikanlah itu sebagai introspeksi diri, mungkin ada khilaf yang telah kita lakukan tanpa kita sadari dan teruslah berprasanga baik kepada-NYA bahwa bisa jadi Ia sangat sayang kepada kita sehingga Ia menegur kita dengan cobaan-NYA.
Inilah mozaik kehidupan yang harus kita lewati, ada senang dan susah, baik dan buruk, hitam dan putih, kaya dan miskin. Kesemuanya harus kita sikapi dengan bijak dengan terus mempertebal rasa keimanan kita kepada-NYA, sebab dengan iman hidup akan lebih bermakna. Berdoalah kepada Allah serta berikhtiarlah, setelah itu pasrahkanlah hasilnya kepada-NYA sebab Dialah yang mengerti apa yang terbaik untuk kita. Ketika kita jatuh janganlah berputus asa, ambillah ibrah daripadanya sebab dibalik kegagalan akan selalu ada pelajaran berharga yang mungkin tak pernah terpikir oleh kita. Dan janganlah pula kita lupa, teruslah berjalan dalam koridor-koridor yang telah ditetapkan-NYA janganlah sampai kita keluar dari koridor itu sebab itulah yang akan membedakan kualitas yang akan kita peroleh di hadapan-NYA.
Ya Rabb…sesungguhnya ilmu-Mu sangatlah luas, kami tak akan pernah merasa puas dengan apa yang telah kami peroleh bahkan kami akan terus merasa kehausan, bimbinglah kami selalu dalam mencari ilmu-Mu yang tiada terhingga ini dan jadikanlah ilmu yang telah kami dapatkan ini bermanfaat bagi kehidupan kami serta semakin menumbuhkan rasa keimanan kami dan senantiasa mendekatkan diri kami kepada-Mu. Amin…
Alhamdulillah…puji syukur selalu terhaturkan kepada-NYA, shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah SAW.
Sungguh ilmu Allah itu sangat banyak tak terhingga, ingin aku lukiskan dengan pena bertinta air lautan yang luaspun tak akan mampu aku lakukan. Semalam, rutinitas tarbiyah telah ku lakukan bersama teman-teman yang lain… satu lagi pelajaran berharga yang kami dapatkan mengenai optimisme.
Optimisme dalam Islam sebenarnya telah tergambar jelas dalam Al-Qur’an, betapa Allah sangat mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Sebagai ummat paripurna yang di ciptakan Allah kita diajak untuk terus berfikir dengan akal yang diberikannya (membaca) tentang kehidupan ini, sebab apapun yang kita lalui dalam mengarungi samudera kehidupan ini selalu ada pelajaran berharga didalamnya, baik itu ketika kita mendapatkan kesenangan maupun dalam keadaan kesusahan.
Berprasangkan baik kepada Allah itu adalah mutlak, jika kita ingin mendapatkan keridhoan-NYA sebab sesuai dengan firman-NYA “Aku adalah sesuai dengan apa prasangkaan hamba-Ku”. Subhanallah…tak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita berjalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-NYA. Oleh karena itu, sepatutnyalah ketika kebahagiaan menghampiri kita rasa syukur tak lupa terucap kepada Sang pemberi nikmat, pun ketika kesulitan datang anggaplah ia sebagai cobaan yang Allah berikan karena Ia sayang kepada kita. Jadikanlah itu sebagai introspeksi diri, mungkin ada khilaf yang telah kita lakukan tanpa kita sadari dan teruslah berprasanga baik kepada-NYA bahwa bisa jadi Ia sangat sayang kepada kita sehingga Ia menegur kita dengan cobaan-NYA.
Inilah mozaik kehidupan yang harus kita lewati, ada senang dan susah, baik dan buruk, hitam dan putih, kaya dan miskin. Kesemuanya harus kita sikapi dengan bijak dengan terus mempertebal rasa keimanan kita kepada-NYA, sebab dengan iman hidup akan lebih bermakna. Berdoalah kepada Allah serta berikhtiarlah, setelah itu pasrahkanlah hasilnya kepada-NYA sebab Dialah yang mengerti apa yang terbaik untuk kita. Ketika kita jatuh janganlah berputus asa, ambillah ibrah daripadanya sebab dibalik kegagalan akan selalu ada pelajaran berharga yang mungkin tak pernah terpikir oleh kita. Dan janganlah pula kita lupa, teruslah berjalan dalam koridor-koridor yang telah ditetapkan-NYA janganlah sampai kita keluar dari koridor itu sebab itulah yang akan membedakan kualitas yang akan kita peroleh di hadapan-NYA.
Ya Rabb…sesungguhnya ilmu-Mu sangatlah luas, kami tak akan pernah merasa puas dengan apa yang telah kami peroleh bahkan kami akan terus merasa kehausan, bimbinglah kami selalu dalam mencari ilmu-Mu yang tiada terhingga ini dan jadikanlah ilmu yang telah kami dapatkan ini bermanfaat bagi kehidupan kami serta semakin menumbuhkan rasa keimanan kami dan senantiasa mendekatkan diri kami kepada-Mu. Amin…
Dakwah ini… Kerendahan Hati dan Kepekaan Sosial
Dakwah ini… Kerendahan Hati dan Kepekaan Sosial
(Menuju Pesta Demokrasi-Pemilu 2009)
Pesta demokrasi akan segara tiba, kita akan memilih calon pemimpin yang kita harapkan dapat membawa bangsa ini kearah yang lebih baik lagi. Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan rakyat mengalami berbagai macam kesulitan, mulai dari bencana yang melanda seperti tsunami, banjir, kebakaran, busung lapar, bahkan kenaikan harga BBM yang membuat kehidupan rakyat bertambah susah, sampai pada tindak kriminalitas yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Yang mana belakangan ini kita dikejutkan dengan berbagai berita dimedia massa nengenai pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan sang penjagal. Tentunya hal ini tak dapat dibiarkan begitu saja, akan jadi apa generasi bangsa ini ke depan? Oleh karena itu, rakyat sangat berharap pada Pemilu nanti akan terpilih pemimpin yang dapat membawa bangsa ini kearah yang lebih baik lagi. Namun, bagaimana kita dapat mewujudkan hal tersebut, pemimpin seperti apa yang tepat untuk memimpin bangsa ini? apakah masih ada pemimpin yang berpihak kepada rakyatnya dan membela kepentingan rakyatnya???
Sebelumnya saya ingin mengajak kita merenungi hakikat penciptaan kita sebagai manusia. Kita diciptakan sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini, di mana kita diwajibkan berdakwah untuk menyeru kebaikan (menyampaikan keindahan Islam ‘rahmatan lil alamin’) pada setiap insan, karena itu pulalah mengapa saya berada dalam amal jama’i ini, memilih menjadi kader dakwah. Dakwah di sini bukanlah seperti yang kebanyakan orang fikirkan yakni ceramah di masjid-masjid, peserta datang dan mendengarkan lalu duduk kemudian pulang tanpa membawa ilmu yang melekat dihati mereka dan bisa mengaplikasikannya… tetapi dakwah ini adalah bagaimana kami ‘tarbiyah’ menggali ilmu keislaman, sosial dan lain sebagainya, belajar mengenai sejarah dan kehidupan, kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan kami dan menyampaikannya ke orang lain. Mungkin apa yang telah saya dapat dan lakukan belum berarti apa-apa, saya masih balita dalam hal ini dan masih harus banyak belajar dan belajar, tapi inilah pilihanku, langkah awal bagiku dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi hingga ajal menjemputku... insya Allah. Pilihanku untuk ‘berhijrah’ tak membuatku menyesal, justru sebaliknya saya sangat bersyukur ‘ternyata Allah sangat sayang padaku hingga Ia membuatku ‘tersesat’ kejalan yang benar’, ya…tadinya saya pikir ‘tersesat’ karena memang awalnya tak berniat untuk berada disini dan sangat minim pengetahuan tentangnya. Beginilah kami dan yang menjadi cita-cita kami….
Jama’ah ini…, Dakwah ini…(saya bersyukur bisa ada didalamnya)
Dalam hubungan kejamaahan ini tidak ada reserve kecuali reserve syar’i yang menggariskan aqidah “La tha’ata limakhluqin fi ma’shiati’l Khaliq” tidak boleh ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim). Aqidah kitapun mengajarkan, tak satupun terjadi dilangit dan bumi tanpa kehendak Allah.
Berda’wah adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da’wah (kehidupan) bersama ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka yang menelantarkan modal usia yang Allah berikan dalam kemilau dunia yang menipu dan impian yang tak kunjung putus. Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah level terendah ukhuwah (lower) yakni jangan sampai merosot kebawah garis rahabatus’ shard (lapang hati) dan batas tertinggi (upper) yakni tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan sendiri). Dalam amal jama’i ini hati saling bertaut dalam ikatan aqidah, ikatan yang paling kokoh dan mahal sebab persaudaraan kita bukan karena kita satu nasab tetapi karena kita seaqidah yaitu Islam. Untuk itu sepatutnyalah sebagai kader kita memperjuangkan kebajikan bagi umat ini.
Ummat ini…perjuangkanlah!!!
Sungguh…Alangkah nikmatnya dicintai dan mencintai, Dipercaya dan mempercayai. Alangkah mengharukannya dukungan rakyat yang tanpa pamrih. Kadang mereka lebih galak membela ‘kita’, daripada ‘kita’ yang mereka bela. Rakyat bisa datang berjalan kaki bermil-mil, dalam panas dan haus. Untuk apa mereka begitu antusias? Apa jaminan caleg dan jurkam yang berjanji memperjuangkan nasib mereka? Dukungan ini tak lepas dari realita yang mereka temukan dalam kehidupan para kader dipelbagai medan kehidupan. Yang komitmen kerakyatannya tak diragukan. Yang kepekaannya terhadap nasib mereka selalu hidup dan tajam. Yang tertempa oleh keikhlasan dan kesabaran, sehingga tak tergiur oleh iming-iming dunia, KKN atau berbagai tekanan, ancaman dan godaan. Namun, tak dapat dipungkiri sebagai manusia biasa pasti ada kekhilafan disana-sini, untuk itu hanya kepada Allah sajalah kita bertaubat memohon ampunan. Allah telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah, oleh karenanya saling mendoakan sesama ikhwah menjadi ciri kepribadian kita, terlebih doa dari jauh dengan penuh keikhlasan dan cinta tanpa ada motivasi lain. Allah akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata “untukmu pun hak seperti itu” seperti pesan Rasulullah SAW. Allah-lah yang telah memberikan karunia besar ini sehingga kelengkapan amal jama’i tempat kita ‘menyumbangkan’ karya kecil kita, memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama’i kita, tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da’wah. Cukuplah kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang saling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, namun semata-mata iman dan cinta fillah.
Ada satu hal yang juga perlu kita ingat, meskipun kita telah bekerja dalam jaringan amal jama’i tapi pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara individu. Karenanya, jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah, baik dalam keadaan sendiri maupun terlihat orang. Kamanapun ia pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut dan terasing, karena Allah senantiasa bersamanya. Bahkan, ia dapatkan kebersamaan rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa. Karena itu, kader sejati yakin bahwa Allah akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang da’wah sesuai dengan janji-Nya, “in tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum” jika kamu menolong Allah, Ia pasti akan menolongmu dan mengokohkan langkahmu. Semoga para kader senantiasa mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah ditengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Masukkan diri ke dalam benteng-benteng kakuatan usrah atau halaqah tempat junud da’wah melingkar dalam suatu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan.
Renungkan dan ambillah ibrah…
Namun, Akan teruskah dukungan berdatangan, ataukah seperti penumpang bus yang silih berganti dan berbeda kepentingan atau turun dengan penuh umpatan penyesalan? Demikian mengharukan dukungan datang. Tetapi awas, tiba-tiba ia dapat berubah menjadi taufan dan amuk balik yang mematikan. Rakyat terlalu lelah untuk bisa memahami tokoh partai, kiyai muda atau aleg (anggota legislative) yang takut mengunjungi mereka karena harus berhati-hati jangan sampai kemeja mahalnya ternoda debu digubug mereka. Atau pantolannya lusuh karena duduk diatas bangku reot diwarung mereka. Atau nafasnya sesak duduk dirumah mereka yang kecil dan kurang udara. Atau jangan sampai mobil hasil dukungan rakyat tergores digang sempit tempat domisili mereka. Rasanya terlalu mewah untuk bermimpi kapan pemimpin yang mereka dukung mengikrarkan (dan membuktikan), “Bila anda perlu mengangkut keluarga yang sakit ditengah malam buta, silakan ketuk pintu dan kami akan antar kerumah rawat”. Mereka tak punya cukup keberanian untuk menyeruak rumah baru para pemimpin yang sudah serba mewah. Merekapun tak cukup mengerti bahwa ada (isteri) sesama kader juga saling menunggu, kalau-kalau tetangga yang sukses dengan dukungan kita mau ‘melempar’ mesin cuci butut atau kompor bekas yang sudah berganti dengan produk paling mutakhir. Atau membeli tambahan buku saat anak-anak mereka berbelanja, untuk teman sekelas atau anak tetangga lainnya. Oleh Karen itu, rakyat mempunyai harapan yang begitu tulus agar kebenaran dan keadilan bisa tegak ditangan para kader yang akrab dan beradab. Mereka punya basic insting yang murni untuk mendukung siapa yang jujur, asal dekat, terjangkau dan meyakinkan. Namun, Otak mereka terlalu sarat beban hidup, sehingga pilihan yang mudah diingat ialah wajah yang sering datang dan pergi. Tapi, lancung atau pendustakah mereka. Disini demokrasi menjadi mesin culas orang-orang yang ingin meraih kekuasaan dengan cara-cara licik. Partai dominant membiarkan kemiskinan untuk pada saatnya ditukar dengan suara murah dibilik pemilu. Partai mitos sengaja merawat kebodohan dan memupuknya dengan berbagai mimpi kewalian, kekeramatan dan kemenangan agar rakyat tetap mendukung dan tak meggunakan nikmat akal yang begitu mahal. Kader yang menyikapi jabatan yang diterimanya lebih sebagai amanah dari pada kehormatan, akan dengan cepat belajar menyesuaikan diri dan memahami karakteristik tugas dan tantangannya. Bawahan yang lebih pandai, diakuinya dan didorongnya untuk cepat menggapai posisi yang lebih sesuai. Mereka berendah hati, karena memang tak takut jatuh dengan merendah. Sebaliknya mereka yang bagaikan senior perpeloncoan yang kerap bermasalah dalam IP mereka, sering menampakkan gejala ketakutan ‘disaingi’. Ingatlah sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia diantara kamu ialah yang bermanfaat bagi sesamanya” .
Wallahu‘alam bisshawab
(kalam yang ku kutip dari Sang Murabbi…)
Inspired by Ustz.Rahmat Abdullah
(Menuju Pesta Demokrasi-Pemilu 2009)
Pesta demokrasi akan segara tiba, kita akan memilih calon pemimpin yang kita harapkan dapat membawa bangsa ini kearah yang lebih baik lagi. Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan rakyat mengalami berbagai macam kesulitan, mulai dari bencana yang melanda seperti tsunami, banjir, kebakaran, busung lapar, bahkan kenaikan harga BBM yang membuat kehidupan rakyat bertambah susah, sampai pada tindak kriminalitas yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Yang mana belakangan ini kita dikejutkan dengan berbagai berita dimedia massa nengenai pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan sang penjagal. Tentunya hal ini tak dapat dibiarkan begitu saja, akan jadi apa generasi bangsa ini ke depan? Oleh karena itu, rakyat sangat berharap pada Pemilu nanti akan terpilih pemimpin yang dapat membawa bangsa ini kearah yang lebih baik lagi. Namun, bagaimana kita dapat mewujudkan hal tersebut, pemimpin seperti apa yang tepat untuk memimpin bangsa ini? apakah masih ada pemimpin yang berpihak kepada rakyatnya dan membela kepentingan rakyatnya???
Sebelumnya saya ingin mengajak kita merenungi hakikat penciptaan kita sebagai manusia. Kita diciptakan sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini, di mana kita diwajibkan berdakwah untuk menyeru kebaikan (menyampaikan keindahan Islam ‘rahmatan lil alamin’) pada setiap insan, karena itu pulalah mengapa saya berada dalam amal jama’i ini, memilih menjadi kader dakwah. Dakwah di sini bukanlah seperti yang kebanyakan orang fikirkan yakni ceramah di masjid-masjid, peserta datang dan mendengarkan lalu duduk kemudian pulang tanpa membawa ilmu yang melekat dihati mereka dan bisa mengaplikasikannya… tetapi dakwah ini adalah bagaimana kami ‘tarbiyah’ menggali ilmu keislaman, sosial dan lain sebagainya, belajar mengenai sejarah dan kehidupan, kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan kami dan menyampaikannya ke orang lain. Mungkin apa yang telah saya dapat dan lakukan belum berarti apa-apa, saya masih balita dalam hal ini dan masih harus banyak belajar dan belajar, tapi inilah pilihanku, langkah awal bagiku dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi hingga ajal menjemputku... insya Allah. Pilihanku untuk ‘berhijrah’ tak membuatku menyesal, justru sebaliknya saya sangat bersyukur ‘ternyata Allah sangat sayang padaku hingga Ia membuatku ‘tersesat’ kejalan yang benar’, ya…tadinya saya pikir ‘tersesat’ karena memang awalnya tak berniat untuk berada disini dan sangat minim pengetahuan tentangnya. Beginilah kami dan yang menjadi cita-cita kami….
Jama’ah ini…, Dakwah ini…(saya bersyukur bisa ada didalamnya)
Dalam hubungan kejamaahan ini tidak ada reserve kecuali reserve syar’i yang menggariskan aqidah “La tha’ata limakhluqin fi ma’shiati’l Khaliq” tidak boleh ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim). Aqidah kitapun mengajarkan, tak satupun terjadi dilangit dan bumi tanpa kehendak Allah.
Berda’wah adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da’wah (kehidupan) bersama ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka yang menelantarkan modal usia yang Allah berikan dalam kemilau dunia yang menipu dan impian yang tak kunjung putus. Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah level terendah ukhuwah (lower) yakni jangan sampai merosot kebawah garis rahabatus’ shard (lapang hati) dan batas tertinggi (upper) yakni tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan sendiri). Dalam amal jama’i ini hati saling bertaut dalam ikatan aqidah, ikatan yang paling kokoh dan mahal sebab persaudaraan kita bukan karena kita satu nasab tetapi karena kita seaqidah yaitu Islam. Untuk itu sepatutnyalah sebagai kader kita memperjuangkan kebajikan bagi umat ini.
Ummat ini…perjuangkanlah!!!
Sungguh…Alangkah nikmatnya dicintai dan mencintai, Dipercaya dan mempercayai. Alangkah mengharukannya dukungan rakyat yang tanpa pamrih. Kadang mereka lebih galak membela ‘kita’, daripada ‘kita’ yang mereka bela. Rakyat bisa datang berjalan kaki bermil-mil, dalam panas dan haus. Untuk apa mereka begitu antusias? Apa jaminan caleg dan jurkam yang berjanji memperjuangkan nasib mereka? Dukungan ini tak lepas dari realita yang mereka temukan dalam kehidupan para kader dipelbagai medan kehidupan. Yang komitmen kerakyatannya tak diragukan. Yang kepekaannya terhadap nasib mereka selalu hidup dan tajam. Yang tertempa oleh keikhlasan dan kesabaran, sehingga tak tergiur oleh iming-iming dunia, KKN atau berbagai tekanan, ancaman dan godaan. Namun, tak dapat dipungkiri sebagai manusia biasa pasti ada kekhilafan disana-sini, untuk itu hanya kepada Allah sajalah kita bertaubat memohon ampunan. Allah telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah, oleh karenanya saling mendoakan sesama ikhwah menjadi ciri kepribadian kita, terlebih doa dari jauh dengan penuh keikhlasan dan cinta tanpa ada motivasi lain. Allah akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata “untukmu pun hak seperti itu” seperti pesan Rasulullah SAW. Allah-lah yang telah memberikan karunia besar ini sehingga kelengkapan amal jama’i tempat kita ‘menyumbangkan’ karya kecil kita, memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama’i kita, tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da’wah. Cukuplah kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang saling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, namun semata-mata iman dan cinta fillah.
Ada satu hal yang juga perlu kita ingat, meskipun kita telah bekerja dalam jaringan amal jama’i tapi pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara individu. Karenanya, jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah, baik dalam keadaan sendiri maupun terlihat orang. Kamanapun ia pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut dan terasing, karena Allah senantiasa bersamanya. Bahkan, ia dapatkan kebersamaan rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa. Karena itu, kader sejati yakin bahwa Allah akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang da’wah sesuai dengan janji-Nya, “in tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum” jika kamu menolong Allah, Ia pasti akan menolongmu dan mengokohkan langkahmu. Semoga para kader senantiasa mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah ditengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Masukkan diri ke dalam benteng-benteng kakuatan usrah atau halaqah tempat junud da’wah melingkar dalam suatu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan.
Renungkan dan ambillah ibrah…
Namun, Akan teruskah dukungan berdatangan, ataukah seperti penumpang bus yang silih berganti dan berbeda kepentingan atau turun dengan penuh umpatan penyesalan? Demikian mengharukan dukungan datang. Tetapi awas, tiba-tiba ia dapat berubah menjadi taufan dan amuk balik yang mematikan. Rakyat terlalu lelah untuk bisa memahami tokoh partai, kiyai muda atau aleg (anggota legislative) yang takut mengunjungi mereka karena harus berhati-hati jangan sampai kemeja mahalnya ternoda debu digubug mereka. Atau pantolannya lusuh karena duduk diatas bangku reot diwarung mereka. Atau nafasnya sesak duduk dirumah mereka yang kecil dan kurang udara. Atau jangan sampai mobil hasil dukungan rakyat tergores digang sempit tempat domisili mereka. Rasanya terlalu mewah untuk bermimpi kapan pemimpin yang mereka dukung mengikrarkan (dan membuktikan), “Bila anda perlu mengangkut keluarga yang sakit ditengah malam buta, silakan ketuk pintu dan kami akan antar kerumah rawat”. Mereka tak punya cukup keberanian untuk menyeruak rumah baru para pemimpin yang sudah serba mewah. Merekapun tak cukup mengerti bahwa ada (isteri) sesama kader juga saling menunggu, kalau-kalau tetangga yang sukses dengan dukungan kita mau ‘melempar’ mesin cuci butut atau kompor bekas yang sudah berganti dengan produk paling mutakhir. Atau membeli tambahan buku saat anak-anak mereka berbelanja, untuk teman sekelas atau anak tetangga lainnya. Oleh Karen itu, rakyat mempunyai harapan yang begitu tulus agar kebenaran dan keadilan bisa tegak ditangan para kader yang akrab dan beradab. Mereka punya basic insting yang murni untuk mendukung siapa yang jujur, asal dekat, terjangkau dan meyakinkan. Namun, Otak mereka terlalu sarat beban hidup, sehingga pilihan yang mudah diingat ialah wajah yang sering datang dan pergi. Tapi, lancung atau pendustakah mereka. Disini demokrasi menjadi mesin culas orang-orang yang ingin meraih kekuasaan dengan cara-cara licik. Partai dominant membiarkan kemiskinan untuk pada saatnya ditukar dengan suara murah dibilik pemilu. Partai mitos sengaja merawat kebodohan dan memupuknya dengan berbagai mimpi kewalian, kekeramatan dan kemenangan agar rakyat tetap mendukung dan tak meggunakan nikmat akal yang begitu mahal. Kader yang menyikapi jabatan yang diterimanya lebih sebagai amanah dari pada kehormatan, akan dengan cepat belajar menyesuaikan diri dan memahami karakteristik tugas dan tantangannya. Bawahan yang lebih pandai, diakuinya dan didorongnya untuk cepat menggapai posisi yang lebih sesuai. Mereka berendah hati, karena memang tak takut jatuh dengan merendah. Sebaliknya mereka yang bagaikan senior perpeloncoan yang kerap bermasalah dalam IP mereka, sering menampakkan gejala ketakutan ‘disaingi’. Ingatlah sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia diantara kamu ialah yang bermanfaat bagi sesamanya” .
Wallahu‘alam bisshawab
(kalam yang ku kutip dari Sang Murabbi…)
Inspired by Ustz.Rahmat Abdullah
Langganan:
Komentar (Atom)