Senin, 04 April 2016

Terima Kasih Telah Mengajarkanku #AHAD



6 tahun bukan waktu yang sebentar mengukir banyak cerita. 
Suka duka datang silih berganti. 
Khilaf alpa senantiasa mengikuti. 
Maafkan atas silap diri. 
Ambillah jika ada kebaikan diri. 
Begitulah sejatinya kehidupan ini. 
Hiasinya dengan ukhuwwah islamiyah dan kasih sayang terhadap sesama. 
Saat ada pertemuan, maka bersiaplah akan perpisahan. 
Ikat ia dengan silaturrahim. 
Semoga setiap yang terjadi hanya karna Lillah 
Dan menjadi syafaat kelak, hingga sampai diJannah-Nya
Aamiin 


#ukhuwah #silaturrahim #officemate

Sabtu, 31 Mei 2014

Kita Ada Di Mana?






Kembali disadarkan dengan kejadian yang kualami beberapa bulan terakhir. Sungguh, betapa dunia ini dihuni oleh 2 sisi -baik dan buruk- sebagaimana Tuhan mengingatkan “segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan.” Melalui episode yang tak pernah terbayangkan, karena apalah daya insan dhaif ini, skenario ada ditangan-Nya. Seakan ditampar dan dibangunkan dari keterlenaan, ada makhluk bernama manusia yang tak berhati nurani. Jika dalam politik, kita biasa mendengar ‘tak ada kawan atau lawan abadi.’ Sejatinya begitu juga kehidupan, kita dihadapkan pada dinamika yang akan datang silih berganti.

Suatu waktu kita akan bertemu dengan seseorang yang baik, kemudian hari akan ada yang sebaliknya. Pelajaran buat kita, kita mau jadi yang mana? Ada rambu-rambu, norma dan aturan yang sudah Tuhan berikan, juga ada nasehat bijak dari orang tua kita dulu, atau kita mau membuatnya sendiri menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat kini. Tinggal kita, mau pilih yang mana? Tuhan sudah membekali kita dengan akal, itulah modal utama sebagai makhluk paripurna dibanding makhluk lainnya.

Tiada mustahil jika Tuhan berkehendak, meski masih belum percaya dengan perlakuan insan tak berhati nurani. Semoga Tuhan memberkahi setiap langkahmu, masih ada kesempatan sebelum ruh berpisah dari raga, dan saat nanti kita dimintai pertanggung jawaban ada Rahmat Tuhan di sana. Semoga akhir kami dalam khusnul khatimah Rabb, Amin.

Jakarta, 2 Sya'ban 1435 H / 310514

Rabu, 07 Agustus 2013

Abba


Foto ini adalah kenangan yang masih tersimpan dari kakekku. Ketika itu, beliau pergi saat usiaku masih belia, memang tak banyak ingatan yang tersisa dimemori kepalaku. Yang ku tau, beliau sering menjadi imam masjid sehingga kami sering berpindah2 rumah mengikuti tugasnya. Kami keturunan Sulawesi Selatan tapi kakek dan nenek merantau saat zaman penjajahan terjadi, mereka harus mengungsi ke daerah lain hingga sampai ke Riau dan akhirnya berdomisili di Kepulauan Riau, tepatnya di Pulau Batam. 

Kakek orang  yang sangat baik dan sabar, saat beliau meminta tolong cucu2nya utk membelikan sesuatu misalnya, jika ada uang kembaliannya pasti akan diberikan kepada kami, tentu saja hal ini membuat kami senang... Pernah juga ku dengar cerita kala beliau menjadi pedagang, beliau tak segan2 utk melebihkan belanjaan pembeli atau memberikan sisa dagangannya kepada orang di sekitarnya. Pendidikan agama juga kami dapatkan dari beliau, semua anak dan cucu2nya harus masuk ke sekolah madrasah. Hal ini tak lepas dari latarbelakang beliau yang memang mendapat didikan agama (pesantren) di tempat asalnya Sidrap, Sulawesi Selatan. Malah, aku sempat mendapat cerita bahwa kakekku ini pernah menjadi guru mengaji salah seorang mantan presiden RI, hmmm... 

 
Meski tak banyak waktu yang kulewati bersamanya, kami bangga menjadi bagian darinya. Tulisan ini menjadi dedikasiku utknya dan bukti bahwa beliau masih ada di hati-hati kami anak dan cucu keturunannya, kami merindukanmu kakek... Semoga Allah SWT mengampuni segala dosamu dan menerima semua amal shalihmu, Amin. Wallahu’alam

Batam, 29 Ramadhan 1434 H/7 Agustus 2013
#oleh2mudik ^_^

Abdul Rahman Syawal bin Mangiri bin Dg. Manangka
Lahir : tahun 1939, Kampung Maniang Salo, Labempa, Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan.
Wafat : 2 April 1996, Pulau Batam.

Jumat, 22 Februari 2013

Aku Pada-Mu



Berjuta kata berkelebat dikepala
Ingin kurangkai kalimat
Tapi… ku tak tau dimana harus bermula.

Oh… hidup dengan dinamikanya
Si A bermasalah dengan orang tuanya
Si B bermasalah dengan anaknya
Si C bermasalah dengan kerabatnya
Si D, E, F, punya masalahnya masing-masing

Ujian, cobaan, masalah datang silih berganti
Tak dapat dihentikan atau ditunda
Konsekuensi bagi makhluk bernyawa
Amanah yang harus ditunaikan sebagai hamba

Jadi, apa yang harus ditakuti?
Apalagi harus menghindar
Hadapi… karena semua yang datang, pun akan pergi
Silih berganti, begitulah sunnatullah kehidupan

Syukur, sabar, dan sholat
Aku pada-Mu Ya Rabb…

Jumuah Mubarakah, 11 Rabiul Akhir 1434 H
Jakarta, 22 Februari 2013

Rabu, 20 Februari 2013

Tukang Sapu, Semangat yaa!!!



Terminal Senen, menjadi 'teman' akrab sejak kantorku digabung dan berpindah tempat, hingga rute ciputat-senen kulalui hampir setiap hari kerja.

Sebagaimana hari biasanya, sore ini sepulang kantor aku berjalanmenuju terminal. Kawasan senen memang ramai, karena merupakan salah satu kawasan bisnis di Jakarta Pusat. Untuk sampai ke terminal aku harus melewati jembatan penyebrangan. Saat menaiki anak tangga jembatan, kita dapat melihat pedagang kaki lima, menjajakan berbagai macam aksesoris seperti tas, perlengkapan gadget, kartu perdana ponsel, sepatu, dll. Setelah menuruni anak tangga dan semakin dekat ke terminal akan kita jumpai para penjual sepatu, pedagang kelontong, makanan, vcd bajakan, sampai penjual buku-buku mulai dari buku jadul, baru bahkan bajakan. Lengkap memang... 

Namun, beberapa hari belakangan ada sedikit pemandangan berbeda di terminal. Ada halte baru di dalamnya dan speaker di gedung petugas perhubungan kembali aktif. Terdengar sang petugas memerintahkan para penyapu terminal untuk membersihkan sampah-sampah yang ada. Wow...saat ini di terminal Senen ada tukang sapunya, wah...terobosan barukah ini? Karena tidak biasanya aku melihat para tukang sapu ini. Bisa dibayangkan terminal yang cukup luas ini dan selalu dipenuhi kendaraan dan manusia harus disapu!? Hmm...

Seperti sore ini, aku melihat beberapa tukang sapu sedang membersihkan sampah yang berserakan. Seketika terbersit dihati saat melihat mereka, bahwa aku lebih beruntung bisa bekerja di kantor yang nyaman. Wajah mereka terlihat teduh, sambil terus menggerakkan sapu ditangannya untuk mengumpulkan sampah.

Pekerjaan yang terlihat cukup sederhana ini tapi memberi manfaat yang lebih. Bukankah menjaga kebersihan sebagian dari iman?!
Mungkin, pekerjaan mereka akan lebih ringan dan efektif bila kesadaran masyarakat kita bangun terlebih dahulu untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Dan yang pasti terminal juga akan bersih dan lebih nyaman.

Senen, Rabu 130213.

repost from my FB v3.moeslemah@gmail.com

Rabu, 16 Januari 2013

Mualaf



Menarik setelah membaca TL (twitter) seseorg yang seakan mengkerdilkan Mualaf krn dianggap baru berislam, tp berani mengkafirkan org lain yg notabene duluan berislam.

Apalagi Mualaf ini setau saya memang jd aktif berdakwah sejak ia bersyahadat, krn merasa menemukan kebenaran hakiki dibanding agama sebelumnya.

Mualaf memang agak berbeda, apalagi jika dibandingkan dgn mereka yg mengaku muslim tp hanya di KTP. #Islam KTP katanya

Tidak dipungkiri, msh banyak masyarakat kita yg awam ttg Islam. Meski mereka lahir dari keluarga beragama Islam. #Islam keturunan katanya

Salah siapa? Yah…bisa jadi individunya yang tak mau menggali ilmu ttg agamanya. Terbiasa dgn ritual dan terlena dgn ajaran turun-temurun dari orangtuanya.

Sementara, mualaf itu biasanya menemukan kebenaran ajaran Islam itu melalui hikmah dari kejadian yg dialaminya. #Hidayah Allah.

Sehingga, hal tsb menancap di hati mereka dan terus menggali kebenaran2 itu dan membuat ilmu mereka justru semakin bertambah dibanding muslim KTP dan turunan tadi.

Jadi nih, kualitas muslim seseorang tdk hanya diukur seberapa lama usia mereka memeluk agama Islam.

Tapi, seberapa besar kemauan mereka mempelajari agama sbg pedoman hidup yg tentu menerapkannya dalam kehidupan.

Dengan harapan, Allah ridho. Sehingga, ia dapat meraih keberkahan hidup di dunia maupun di akhirat. Wallahu’alam

27 shafar 1434 H/8 Januari 2013
 Repost from my twitter @sh4fa_fitri

Senin, 10 Desember 2012

Memaknai





Saat manusia dengan pikirannya sendiri, memaknai setiap kejadian.
Belumlah tentu itu merupakan kebenaran, meski ianya adalah sebuah kenyataan.
Yang menurut kita baik, belum tentu menurut Allah baik dan sebaliknya.
Hanya, berusaha terus mencoba menjadi hamba terbaik menurut-Nya.
Ketika doa dan ikhtiar telah pun ditunaikan, Allah-lah muara dari segalanya.
Sebab dunia ini fana, Dialah yang sesungguhnya kekal.

Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas nikmat yang hingga kini masih kurasakan. Maka, nikmat-Nya yang manakah yang kan kau dustakan?

Meski ini bukanlah akhir dari sebuah harap. Namun, tanda-tanda itu sudah berusaha ku baca dengan kemampuanku. Allah…sungguh semakin kurasakan ke Maha Rahman dan Rahim-Mu. Tak usah kuragu lagi bahwa Kau memberi rezeki dari arah yang tak pernah ku sangkakan. Insan dhaif ini hanya mampu mengucap syukur, sesungguhnya aku malu pada-Mu Rabb. Kali ini, air mata jatuh bukan karena duka yang mendera, tapi ke-suka-an yang entah dengan cara apa lagi harus ku ungkapkan. Jika memang ini yang terbaik menurut-Mu, mudahkanlah ia. Yaa muqollibal qulub, tsabbit qalbi ala diinik…

menyongsong harapan besar...
Jakarta, 26 Muharram 1433 H/10 Desember 2012