Saat manusia dengan pikirannya sendiri, memaknai setiap kejadian.
Belumlah tentu itu merupakan kebenaran, meski ianya adalah
sebuah kenyataan.
Yang menurut kita
baik, belum tentu menurut Allah baik dan sebaliknya.
Hanya, berusaha terus mencoba menjadi hamba terbaik
menurut-Nya.
Ketika doa dan ikhtiar telah pun ditunaikan, Allah-lah muara
dari segalanya.
Sebab dunia ini fana, Dialah yang sesungguhnya kekal.
Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas nikmat yang hingga
kini masih kurasakan. Maka, nikmat-Nya yang manakah yang kan kau dustakan?
Meski ini bukanlah akhir dari sebuah harap. Namun,
tanda-tanda itu sudah berusaha ku baca dengan kemampuanku. Allah…sungguh
semakin kurasakan ke Maha Rahman dan Rahim-Mu. Tak usah kuragu lagi bahwa Kau
memberi rezeki dari arah yang tak pernah ku sangkakan. Insan dhaif ini hanya
mampu mengucap syukur, sesungguhnya aku malu pada-Mu Rabb. Kali ini, air mata
jatuh bukan karena duka yang mendera, tapi ke-suka-an yang entah dengan cara
apa lagi harus ku ungkapkan. Jika memang ini yang terbaik menurut-Mu, mudahkanlah
ia. Yaa muqollibal qulub, tsabbit qalbi
ala diinik…
menyongsong harapan besar...
Jakarta,
26 Muharram 1433 H/10 Desember 2012
