Sabtu, 27 Juni 2009

Cari Jodoh (Mencari Pasangan Mati...)

Kata Al-Qur’an, tukang berzina untuk tukang berzina, shalihin untuk shalihat, musyrikin untuk musyrikat, cari di diskotik ya bertemu dancer, cari di pasar ya bertemu pedagang, cari ditempat pesta ya bertemu party-goer, cari di masjid ya ketemu ahli “ibadah”. Cara ketemunya juga menentukan. Bisa saja carinya dimasjid, tapi karena caranya salah, alih-alih dapat suami yang shalih, yang didapat malah maling sepatu.

Tidak peduli apakah anda merasa bahwa anda atau calon suami anda “sudah cukup agamanya”, anda berdua perlu terus membina diri tanpa henti. Ada 5 dimensi manusia yang perlu dibina terus-menerus agar kita menuju format insan kamil (bahasa Al-Quran untuk manusia sempurna). Kelima dimensi itu adalah:
•Dimensi ruhiyah (spiritual)
•Dimensi ‘Aqliyah (intelektual)
•Dimensi Syu’uriyah (mental,emosional)
•Dimensi Jasadiyah (fisikal,raga)
•Dimensi Manfaat (keterampilan)

Dimensi Ruhiyah
•Dibina dengan shalat tahajud (jenis shalat yang sudah diperintahkan jauh sebelum shalat 5 waktu di wajibkan).
•Membaca Al-Quran dengan maknanya sebelum shubuh.
•Selalu berdzikir mengingat kekuasaan Allah yang menggenggam kita dan seluruh alam.
•Bersahabat dengan orang-orang yang menjaga lidah, mata dan telinga untuk pembicaraan yang baik.
•Sering mengeluarkan harta dan waktu kesayangan kita untuk orang dhuafa (yatim, miskin, fakir, orang yang dalam perjalanan).

Dimensi ‘Aqliyah
•Ditempa dengan membaca buku-buku yang bergizi. Urutan prioritasnya begini: Al-Quran, kitab-kitab Hadits (Bukhari-Muslim dll), kitab-kitab ulama (tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fii Zhilaalil Quran, Riyadhusshalihin karya Imam Nawawi dll), kitab-kitab Sirah atau sejarah hidup Rasulullah dan sahabatnya karya Ibnu Hisyam, Said Ramadhan Al-Buty, Al-Mubarakfury, Al-Kandahlawy dll).
•Baru sesudah itu baca buku yang lain-lain. Wajah peradaban barat karya Adian Husaini, Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki, ESQ karya Ari Ginanjar, bahkan novel Da Vinci Code juga silakan, tapi daftar yang diatas diselesaikan dulu.

Dimensi Syu’uriyah
Dipertajam dengan banyak membantu orang lain memecahkan masalahnya. Tidak harus dengan uang, meskipun semakin banyak uang atau barang yang anda berikan kepada orang juga membantu memantapkan jiwa. Semakin sering anda mendengarkan keluh kesah orang dan membantu menyelesaikannya, semakin mantap kestabilan emosi anda. Tapi bukan keluh kesah tentang pacar…yang itu sih suruh ke laut aja deh. Keluh kesah tentang uang yang kurang untuk membelikan susu anak, tentang kehilangan pekerjaan, tentang penyakit yang tak sembuh-sembuh, tentang warung yang bakal bangkrut, dengarkan. Bantu selesaikan.

Dimensi Jasadiyah
•Dikuatkan dengan sering puasa senin-kamis,
•Makan-makanan yang sehat alamiah (makin banyak penyakit aneh-aneh dan mengerikan yang disebabkan makanan artificial yang penuh dengan bahan pengawet, perasa, pewarna dan pengaroma buatan).
•Jika sakit, hindari sebisa mungkin obat konvensional dari dokter, terutama antibiotic, Karena para dokter sendiri yang bilang obat-obat mereka penuh dengan bahan kimia beracun yang menyembuhkan Sakit tapi menimbulkan sakit dibagian lain. Madu, Habbatussauda (jintan hitam), obat-obatan herbal harus didahulukan sebagai obat yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya.
•Olah raga, berkeringatlah setiap pagi 30-45 menit. Buka lebar-lebar paru-paru anda, stretching-lah otot dan saraf anda, agar aliran darah lancar.
•Rajin-rajinlah berwudhu, selain merontokkan dosa-dosa, wajah dan kulit anda akan lebih bercahaya. Semakin sering berwudhu semakin bagus.
•Akhirnya, istikharah-lah dengan tekun. Para Sahabat Rasulullah dikabarkan melakukan istikharah untuk begitu banyak persoalan. Pekerjaan orang dewasa adalah menentukan pilihan. Begitu Wara’nya para sahabat, sampai-sampai untuk urusan yang remeh seperti hendak mencangkul ladang yang mana terlebih dahulu pun mereka melakukan istikharah. Inti dari istikharah itu, mohon kepada Allah. Rasulullah menjamin, tidak akan menyesal orang yang beristikharah!

“Ya Allah jika dia baik untuk agamaku,
Untuk kehidupan duniaku,
Dan untuk kehidupan akhiratku,
Maka takdirkan dia untukku,
Mudahkan segala urusan kami dan berkahilah.
Jika tidak, maka palingkan aku daripadanya,
Dan palingkan dia daripadaku.”

(Dipetik dari tulisan Dzikrullah, Majalah Alia Feb 06 dengan beberapa penyesuaian).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar