Jumat, 01 Mei 2009

a leTTer (2)

Selanjutnya, istri pembesar Mesir memberitahukan kepada para wanita yang hadir, mengenai kepribadian bagus yang tertanam pada diri Nabi Yusuf as . Yaitu, sifat 'iffah (ketangguhan untuk menjaga kehormatan diri), tidak sudi menyambut ajakan berbuat tidak senonoh. Karena penolakan itu, muncullah ancaman dari mulut wanita istri pembesar Mesir itu. Yakni dijeblosankannya Nabi Yusuf as ke dalam penjara dan hidup dalam keadaan terhina.

Sesuatu hal yang hanya bisa dikerjakan oleh orang2 yg dekat dengan Allah dan mengharapkan ridha-Nya. Oleh karenanya beliau berdoa

Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku (12:33).

Semua factor mendukung, usia muda, status sebagai budak, tempat tinggal yg jauh dari kampung halaman, dan kesempatan berbuat. Semuanya tidaklah membuat nabi Yusuf terjerumus didalamnya, beliau tidak menjadikan faktor2 tersebut sebagai justifikasi tuk berbuat maksiat. Itulah perilaku orang2 sholeh yg mengharap ridha-Nya.
Sangat jauh dengan perilaku remaja saat ini, mereka hidup bebas. Bebas tuk menentukan langkah kaki tapi seringkali dijejakkan pd tempat maksiat, bebas tuk menentukan pilihan tapi seringkali terjebak dlm pilihan yg salah. Usia selalu dijadikan pembenaran tuk mengindahkan perintah-Nya atau melanggar larangan-Nya. Kalo orang muda gak papa keluar malam, namanya juga masa muda, gak papa tuk melampiaskan hasratnya walau pulang dini hari. Apalagi jika ditambah kondisi jauh dari ortu yg notabene selalu mengawasi perilaku anak2nya, wah makin merdekalah jiwa2 liar dalam diri mereka (terkadang tuk membebaskan hasrat yg terkukung ada yg sengaja milih sekolah jaauuuuh bgt dr rumah biar bisa bebas gitu..). Da tau temennya gak bener tapi tetep nempel aja… Kasian lagian qta khan gak bole pilih kasih dalam berteman, gitu alasannya kl ditanya. Tapi kalo hatinya galau acapkali meracau dlm rintihan lisan atau tulisan.

Kau selalu merintih kesakitan
Tapi selalu kau tolak obat penyembuhnya

Gak kuat dengan perasaan, apalagi wanita tapi tetep aja solusi Allah ditolak. Da tau jiwa labil bukannya byk berdzikir n ibadah lain malah keluyuran sampe malam tuk mencari ketenangan. Padahal jawabannya sudah jelas

“… Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (13:28)

Orang pintar mengatakan, kejahatan itu terjadi jika ada kesempatan dan niat. Yg terjadi pada diri nabi Yusuf adalah kesempatan tp beliau SAMA SEKALI TIDAK PUNYA NIAT tuk melakukannya. Bedanya dengan remaja saat ini adalah niat mereka besar sehingga terkadang kesempatan yg tdk ada pun dibuatnya. Cari2 temen di fb buat kenalan syukur2 bisa pacaran, selalu memposisikan diri sebagai mahluk yg lemah agar byk yg simpati, berusaha dapetin perhatian dr rekan sejawat dgn pura2 minjem catatan, pura2 fotokopi padahal itu bisa didapat dr org lain, pura2 nelpon nanyain yg lain padahal supaya kangennya terobati. Itulah bedanya pemuda Yusuf dengan remaja sekarang. Tidak percuma kisah ini dikatakan sebagai kisah paling baik

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu…” (12:3)

Inilah kisah perjuangan seorang remaja dalam menghadapi dahsyatnya glamour kehidupan di sekitarnya. Perjuangan yg sukses dilaluinya walau hrs melewati rintangan yg besar yakni PENJARA. Sebesar apapun perjuangan remaja melawan hawa nafsunya tidak ada penjara dihadapannya, tapi justru byk yg gagal dlm ujiannya. Byk yg lari dr kebaikan menuju kesia-siaan. Lari dr pengajian menuju majelis hura2, lari dr ibadah menuju maksiat, lari dr lambaian malaikat malam menuju pelukan guling, lari dr pintu surga Ar Royyan menuju kekenyangan

Oh pemuda Yusuf dimanakah engkau saat ini, adakah engkau di UIN?

bersambung... (kalo sempet...)